[SERUU] Traveling Estafet dari Jogja ke Lombok, Gimana Caranya?

"Setelah mengunjungi banyak kota di Indonesia, mana yang paling istimewa menurutmu, Andy?” Tanya saya ke Andy, seorang turis asal Korea Selatan di sebuah homestay di Gunung Bromo.
“Bromo dan Lombok. Lombok pantainya sangat indah,” Kata Andy.
Sepulang dari solo traveling ke Bromo, aku sudah mantap untuk menjadikan Lombok sebagai destinasi selanjutnya. Namun karena kesibukan kerja yang bertubi-tubi, lima bulan setelah percakapan itu, akhirnya aku baru bisa mengunjungi Lombok untuk pertama kalinya.

Dan memang benar, Lombok itu sangat indah, bahkan cenderung lebih tenang untuk destinasi wisata, jika dibanding wisata yang ada di Bali yang sudah terlalu ramai. Selain itu, infrastrukturnya juga sangat bagus. Itulah kenapa kamu akan jarang sekali menemukan kemacetan di Lombok. Sektor pariwisata adalah sumber pendapatan terbesar untuk masyarakat Lombok, karena setiap harinya pulau ini kebanjiran wisatawan.



Bagaimana cara menuju pulau Lombok?



Dari Yogyakarta

Start mulai dari kota Yogyakarta, pukul 19.00 WIB memakai bus Eka jurusan Jogja – Surabaya dengan tarif Rp 100.000,- (Termasuk minum dan makan malam). Bus yang satu ini setiap jamnya ada yang berangkat ke Surabaya, dari terminal Giwangan.


Dari Surabaya

Bus yang aku naiki sampai di Terminal Purabaya pukul 03.00 WIB. Karena selanjutnya aku akan naik pesawat yang berangkat pukul 05.30 WIB, aku langsung bergegas menuju Bandara Djuanda, Surabaya. Dari terminal Purabaya sudah ada bus Damri khusus Terminal ke Bandara.

Jika kamu ingin mencoba cara saya ini, kamu akan menemukan banyak sekali sopir taksi dan tukang ojek yang menawarkan jasa angkut dari terminal ke bandara, dengan tarif yang mahal. Tipsnya adalah, sebelum turun dari Bus Eka tadi, tanyalah ke sopir bus Eka dimana lokasi bus Damri yang menuju bandara. Supaya ketika kamu turun tidak bingung.

Dengan tarif Rp 20.000,-, aku sampai di bandara 40 menit kemudian. Pesawat yang akan aku naiki adalah pesawat Citilink Surabaya - Lombok dengan tarif Rp 450.000,-.


Sampai di Bandara Lombok

Waktu yang dibutuhkan untuk terbang dari Surabaya ke Lombok adalah sekitar 40 menit. Berangkat pukul 05.30 WIB, sampai di Lombok pukul 05.15 WITA (Waktu Indonesia Tengah).

Tips ngirit kalo solo traveling ke Lombok (via bandara) adalah harus pintar-pintar menolak tawaran sopir taksi dan sopir travel. Lebih baik naik bus Damri yang sudah tersedia di depan Bandara. Fyi, di bandara ini hanya ada 3 opsi kendaraan : taksi, travel, dan bus damri. Taksi dan travel biayanya Rp 100.000,-, cocok kalo kita rombongan. Kalo bus damri cukup Rp 20.000,-, cocok kalo kita solo traveling.

Bedanya, sopir travel dan taksi antusias banget dalam mengajak penumpang buat memakai jasanya, sedangkan bus damri hanya parkir saja di depan bandara, karena penumpang bakal datang dengan sendirinya.

Atau, jika kamu memiliki kenalan di Lombok, minta dia untuk menjemputmu di bandara, karena ini akan sangat membantumu.



Sesampainya di Lombok, tempat wisata apa saja yang bisa kamu kunjungi?

Perjalananku ke Lombok ini sebenarnya tidak 100% untuk jalan-jalan, melainkan untuk menghadiri sebuah acara komunitas. Sehingga, tidak semua tempat wisata di Lombok bisa aku kunjungi.

Tetapi, jika kamu start dari Bandara Lombok, destinasi terdekat yang bisa kamu kunjungi adalah Desa Sasak Sade.


Di Rumah Adat Desa Sade, Kamu Bisa Masuk Rumah yang Unik dan Ngobrol dengan Penghuninya


Inilah destinasi pertama yang aku kunjungi, karena tempatnya yang paling dekat dengan bandara Lombok. Desa Sasak Sade berada di Lombok Tengah. Penghuni desa ini adalah penduduk dari Suku Sasak, yakni komunitas yang masih memegang teguh adat tradisi Lombok hingga kini. Sistem sosial dan kehidupan keseharian masyarakat di Desa Sade ini masih memegang erat tradisi Sasak zaman dahulu.Makanya, Desa Sasak Sade ditetapkan sebagai desa wisata di NTB.

Untuk transportasi menuju Desa Sasak Sade, aku memakai Taksi. Dari bandara ke desa Sade. Tidak ada angkotan lain selain taksi. Ojekpun tak ada. Namun, cermatlah dalam memilih taksi. Pengalamanku, waktu menanyakan tarif ke sopir taksi, mereka mematok harga Rp 80.000 s/d Rp 100.000,-. Agak kurang masuk akal, karena jarak tempuh dari bandara ke desa ini hanya 20-30 menit saja.

Ternyata, di Bandara ini ada 2 jenis taksi. Satunya adalah taksi Blue Bird yang tarifnya sudah pasti berdasarkan argo, yang satunya lagi adalah taksi on the road alias taksi yang tarifnya fleksibel, bisa disepakati dari awal untuk harga. Karena taksi on the road tadi tidak mau menurunkan harganya, akhirnya saya memakai taksi Blue Bird.

Dan ternyata benar, sampai di desa Sasak, tarifnya hanya Rp 30.000,- saja. Taksi sekelas Blue Bird.

Baru turun dari taksi, kamu akan disambut langsung oleh guide yang akan mengantarkanmu keliling desa Sade. Biaya untuk masuk desa ini sifatnya fleksibel, karena sistemnya adalah sumbangan. Di gerbang masuk desa, sudah ada petugas yang siap mendata mana dan asalmu. Sumbangan yang biasa diberikan adalah sekitar Rp 20.000,- s/d 50.000,-.

Hal-hal unik yang bakal kamu jumpai di Desa Sade ini adalah karakteristik rumah penduduknya yang dibangun dari bambu, dengan atap yang berasal dari daun alang-alang. Karya masyarakat Sasak Sade yang terkenal adalah kain tenun. Konon, berdasarkan cerita yang aku dapatkan dari guide yang mendampingiku mengelilingi desa ini,  perempuan-perempuan Sasak Sade tidak akan menikah kalau belum bisa membuat kain tenun.


Melihat Pasir Pantai Seperti Merica di Pantai Kuta, Lombok




Lombok juga memiliki pantai Kuta. Pantai ini berdekatan dengan Desa Sade. Jadi, setelah mengunjungi Desa Sade, kamu bisa langsung pergi ke pantai Kuta dengan taksi. Pantai Kuta Lombok ini memiliki pasir yang sehalus merica. Makanya banyak penduduk setempat yang menyebut pantai ini sebagai pantai merica. Pantai Kuta Lombok adalah salah satu tempat wisata di Lombok yang paling indah, belum terlalu ramai alias jarang dijamah oleh gangguan manusia.

Hiburan utama di pantai ini adalah berselancar. Kamu akan menemui banyak sekali turis di pantai ini. Ombak pantai Kuta merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Wisata lain yang dapat dilakukan di Pantai Kuta Lombok di antaranya: berkuda, memancing, snorkeling,  dan lain-lainnya.

Untuk menuju pantai ini, tidak ada tarif khusus, hanya tarif parkir saja.


Melihat Sunset yang Indah di Pantai Senggigi



Pantai Senggigi adalah salah satu tempat wisata yang paling ramai di Lombok. Ramai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Pantai Senggigi berlokasi di bagian barat pulau Lombok. Senggigi mempunyai suasana yang sangat mirip dengan Pantai Kuta di Bali, yaitu penuh dengan penginapan-penginapan dan full turis. Namun, pantai ini memiliki ombak yang tenang. Sangat cocok buat kamu yang hobi berenang dan snorkeling. Senggigi memiliki garis pantai yang panjang, indah, dan airnya yang jernih.

Untuk akses ke pantai Senggigi bisa dibilang sangat mudah. Kalau kamu posisinya di bandara Lombok misalnya, kamu bisa menggunakan jasa mobil carteran dengan tarif sekitar Rp 300.000,-.

Atau, kalau mau lebih murah, bisa memakai bus Damri. Untuk bus Damri, ada dua rute jalan yang bisa dilewati, yaitu ke terminal Mandalika, atau ke pasar Seni. Karena aku jalan-jalan sendiri, maka aku lebih memilih memakai Damri karena biayanya lebih murah.

Atau, kalau kamu posisinya sudah di Mataram, kamu bisa naik taksi dengan biaya sekitar Rp 50.000,- s/d Rp 100.000,-. Kalau mau yang lebih murah, bisa naik angkutan umum dengan mengambil jalur Sweta - Ampenan dengan tarif Rp 3.000,- per orang. Setelah kamu sampai di Ampenan, bisa naik angkutan jurusan Senggigi dengan tarif Rp 2.000,- per orang.

Kalau sudah sampai di Senggigi, kamu tinggal jalan kaki ke pantai Senggigi. Selama perjalanan, akan ada banyak warung dan penjual souvenir di pinggir jalan.

Waktu paling pas buat ke Senggigi adalah sore hari, sekalian melihat indahnya sunset di pantai tersebut.


Pura Batu Bolong


Pura Batu Bolong adalah pura kecil yang ada di Senggigi. Sama halnya pura-pura yang ada di Bali, pura ini juga mengharuskan setiap wisatawan yang masuk untuk memakai kain berwarna kuning di pinggang selama berada di dalam area pura. Selain itu, ada peraturan kalau perempuan yang sedang berhalangan dilarang memasuki area pura.

Kenapa namanya Batu Bolong?

Jadi begini, pura ini berada di atas sebuah batu karang berwarna hitam yang menghadap ke arah laut. Nah, di bagian tengah batu karang ini, terdapat sebuah lubang. Makanya, pura ini dinamakan Pura Batu Bolong. Untuk masuk ke pura ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000,- per orang.


Melihat Pemandangan yang Sangat Mempesona di Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan



Ini adalah wisata pantai paling terkenal dan paling eksotis yang ada di Lombok. Gili adalah pulau yang terpisah dari pulau utama lombok, yang terletak di bagian barat Lombok. Gili memiliki air laut yang sangat bening dan jernih, pasir putih yang super bersih, terumbu karang yang indah, serta bermacam-macam ikan hias yang cantik. Wisatawan yang datang ke gili setiap membludak setiap harinya, terutama wisatawan asing. Mayoritas wisatawan ingin menikmati keindahan pantai dengan berenang, snorkeling, dan berjemur. 

Ada banyak fasilitas publik yang lengkap di Gili, di antaranya hotel dan penginapan, cafe, diskotik, restoran, dan tempat ibadah. 


Bagaimana menuju ke Gili Trawangan?



Kalau kamu ingin berhemat, sebelum berangkat ke Gili, belanjalah minuman dan makanan yang banyak. Misalnya air minum, snack, nasi bungkus, yang murah-murah saja. Karena apa? Makanan di Gili itu mahal-mahal. Bisa sampai 5 x lipat dari harga biasanya.

Untuk transportasi menuju ke Gili, jika berangkat dari pelabuhan Bangsal, perjalanannya memakan waktu sekitar 45 menit dengan memakai perahu yang bertarif sekitar Rp 13.000,- per orang. Perahu yang berangkat ke Gili aktif dari pagi jam 8 sampai jam 6 sore. Jadi, usahakan jangan malam-malam kalau ingin mengirit.

Untuk penginapan, ada banyak pilihan, dari yang harganya Rp 80.000,- permalam sampai yang Rp 500.000,-. Semakin mahal, semakin banyak fasilitasnya, mulai dari AC, Disediakan sarapan, luar kamar, dan lainnya. Pokoknya, setibanya di Gili, usahakan cari penginapan (jika ingin menginap) dulu.

Di pulau ini, kamu nggak akan bertemu dengan kendaraan bermotor, adanya sepeda ontel. Makanya, pulau ini sangat jauh dari kebisingan dan polusi kendaraan.

Kemudian, mayoritas orang yang berkunjung ke Gili pasti melakukan Snorkling. Pokoknya rugi banget kalau nggak snorkling. Udah jauh-jauh ke Lombok, tapi nggak snorkling di Gili, nanggung! Biaya untuk snorkling per orang adalah Rp 100.000,-, sudah termasuk biaya naik kapal dan alat snorkling tetapi tanpa kaki katak. Untuk sewa kaki katak, harganya Rp 20.000,- (Jika belum naik). Seluruh kapal yang melayani jasa snorkling akan mulai berlayar pada pukul 10.00 WITA.


Menginjakkan Kaki di Pantai yang Pasirnya Berwarna Pink


Pantai Pink, apa yang ada dipikiranmu setelah mendengar nama pantai ini? Ya, pasir pantainya berwarna pink. Pantai Pink ini berlokasi di desa Sekaroh, daerah Jerowaru, Lombok Timur. Warna pasirnya yang unik membuat pantai ini menjadi sangat terkenal. Padahal, nama awalnya bukan pantai Pink, melainkan pantai Tangsi.

Kenapa pasirnya berwarna Pink? Sebenarnya pasirnya berwarna putih seperti pasir pantai yang ada di wilayah pantai Lombok lainnya. Hanya saja, pasir di pantai ini bercampur dengan serpihan terumbu karang yang menghalus dengan warna kemerah-merahan, jadilah warna pink.

Untuk menuju pantai Pink, dibutuhkan waktu yang akan lumayan, karena lokasinya ada di timur. Kalau kamu berangkat dari kota Mataram, akan dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menuju pantai ini.


Belum Lengkap Rasanya ke Lombok, Kalau Tidak Mendaki Gunung Rinjani



Gunung Rinjani adalah ikon wisata di Lombok yang paling terkenal. Ketinggiannya yang mencapai lebih dari 3,700 meter, Rinjani menjadi gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia. Bagi para penganut agama Hindu, Gunung Rinjani memiliki nilai spiritual tersendiri karena bagi mereka, Gunung ini adalah tempat tinggalnya pada dewa.

Banyak yang mengatakan kalau Gunung Rinjani adalah gunung dengan pemandangan terindah di Asia, sehingga banyak orang yang mendaki gunung ini supaya bisa menikmati pemandangan yang tiada duanya.
Karena alasan pekerjaan dan waktu liburan yang terbatas, aku belum sempat mendaki gunung ini. Suatu saat nanti jika ada kesempatan, aku ingin mendakinya.


Back to Jogja

Booking tiket Kereta Api Sri Tanjung

Karena saat keberangkatan, aku naik Bus dan Pesawat, maka saat perjalanan pulang ke Jogja, aku memutuskan untuk naik kapal dan naik kereta. Satu hari sebelum pulang, aku sempatkan dulu untuk membeli tiket kereta api Sri Tanjung dari Banyuwangi - Jogja. Kamu bisa membelinya di Indomaret daerah Lombok dengan harga Rp 50.000,-. Jadwal keberangkatan kereta api Sri Tanjung adalah pagi hari Pukul 06.30 WIB.

Kenapa aku membeli tiket ini tidak di stasiun Banyuwangi saja langsung? Karena tiket kereta ini sangat laris, jadi kalau beli di hari H bisa kehabisan.

Aku memulai perjalanan pulang via darat dan laut ini dipagi hari. Alasannya karena aku ingin melewati lautan Lombok dan Bali di siang hari, supaya bisa menikmati pemandangan laut saat siang hari.

Inilah rute perjalanan pulangku via darat laut.

Lombok - Pelabuhan Lembar

Aku mulai perjalanan pulang dari Terminal Mandalika. Namun, di terminal ini jika kamu bepergian sendiri, harap waspada. Karena, pengalamanku, banyak calo bus. Waktu aku turun di Terminal ini, baru keluar mobil saja sudah disambut calo bus yang siap mengantarkan saya ke Denpasar. Mereka merebut tas saya dan membawanya ke bus mereka.

Biaya yang mereka tawarkan adalah Rp 250.000,- untuk sampai di Denpasar. Akupun sempat bingung karena calonya banyak sekali. Akhirnya aku sampaikan, "Pak, maaf sekali kalau tarifnya Rp 250.000,- hanya sampai di denpasar, saya tidak ada uangnya, Pak. Ini hanya ada Rp 150.000,- saja."

Para calo bus tersebut pun melepaskanku, karena tidak ada potensi 'keuntungan' yang bisa didapatkan dariku.

"Lalu, apa rencanamu dengan uang segitu?" Tanya Calo.
"Aku mau naik kapal dari Pelabuhan Lembar. Nanti di Padang Bai, sudah ada yang jemput teman," Jawabku. Padahal tidak ada yang jemput, yang jemput ya nanti sopir bus.

Akhirnya, aku disarankan untuk naik angkot ke Pelabuhan Lembar dengan tarif Rp 30.000,- dengan lama perjalanan sekitar 1 jam.

Sesampainya di Pelabulan Lembar, di depan gerbang pelabuhan, masuklah satu orang lelaki ke dalam angkot. Ia menawarkan tiket kapal. Sang sopir angkot menurunkanku di tempat yang masih lumayan jauh dari gerbang Pelabuhan. Mau tidak mau, aku harus menghadapi calo kapal tersebut yang ternyata ada 2 orang. Satu orang pemegang tiket kapal, satu orang pemilik motor yang akan mengantarkanku naik ke kapalnya.

Calo tersebut menawarkan tiket kapan sebesar Rp 45.000,-. Akhirnya, karena aku was-was, kubeli tiket itu dengan memberikan uang Rp 50.000,-. Dan apa yang terjadi?

"Mas, kembaliannya buat saya saja ya yang lima ribu. Terimakasih." Dengan entengnya.

Saya pun diantarkan ke depan tangga naik kapal Ferry yang akan mengantarkanku ke Pelabuhan Padang Bai, Bali.

Di depan tangga, ada 4 petugas yang berjualan karcis kapal. Calo yang mengantarkanku naik motor itu bilang ke petugas karcis kapalnya, "Pak, saya nitip saudara saya ya mau ke Bali dia," Katanya sambil jalan lalu pergi tanpa memberikan uang ke petugas karcisnya.

Aku pun masuk kapal, dan petugas karcis tersebut memanggil-manggil calo tadi untuk membayar uang karcis tadi, tetapi tidak dihiraukan olehnya. Aku bergumam sengit, "Sejak kapan aku punya keluarga jadi Calo tiket kapal semacam dia? Brengsek!"

Pelajaran yang bisa diambil adalah, bersiaplah berhadapan dengan calo-calo tadi jika kamu bepergian sendiri ke Lombok. Ini menantang tapi sangat mengasyikkan. Inilah yang aku cari, inilah kenapa aku tidak mau naik pesawat untuk perjalanan pulang.


Pelabuhan Lembar - Pelabuhan Padang Bai



Kapal yang aku naiki berangkat dari pelabuhan Lembar pukul 09.30 WITA dan sampai di Pelabuhan Padang Bai pukul 13.00 WITA. Jika kamu belum sarapan, lebih baik belilah makan bungkus sebelum naik kapal. Karena harga makanan dikapal lumayan mahal dan tidak menjual nasi. Pop Mie saja harganya Rp 15.000,-.

Selama perjalanan di kapal, kamu bisa menikmati indahnya laut Lombok dan Bali. Dengan perjalanan 4 jam, kamu juga akan dihibur dengan bioskop mini yang disediakan oleh kru kapal.


Pelabuhan Padang Bai - Terminal Ubung, Denpasar

Pukul 13.00 WITA, aku sampai di Pelabuhan Padangbai. Tadinya, aku berencana untuk ikut truk besar yang menuju ke Pelabuhan Gilimanuk. Tetapi ternyata tidak ada. Akhirnya, aku memakai plan B. Yaitu naik angkot menuju Terminal Ubung di Denpasar.

Karena aku pernah hidup di Bali selama satu tahun, aku masih hafal daerah-daerah Bali.

Jika kamu bingung dimana lokasi angkotan untuk menuju ke kota Denpasar, kamu bisa menanyakan ke pos polisi yang ada di pelabuhan Padangbai. Itu juga yang aku lakukan. Pak polisi dengan senang hati membantuku menunjukkan angkotan yang murah menuju terminal Ubung, Denpasar. Biayanya Rp 70.000,- dengan lama perjalanan sekitar 3 jam. Sebenarnya bisa ditempuh selama 2 jam saja. Namun, karena kota Bali sudah mulai macet, jadinya lama.

Dengan biaya Rp 70.000,- tersebut, sontak uangku tinggal tertinggal Rp 50.000,-. Bus jurusan ke Gilimanuk, biayanya Rp 40.000,-. So, tinggal tersisa Rp 10.000 di kantong.

Dan uang Rp 10.000 tadi, rencananya aku alokasikan untuk biaya naik kapan sebesar Rp 8.000,-. So, tinggal tersisa Rp 2.000,-. Aku belum makan dari tadi siang, dan besok pagi harus menempuh perjalanan dari Banyuwangi ke Jogjakarta sekitar 12 jam.

Makan apa? :D

Dari awal berangkat, aku sudah coba berspekulasi dengan cara, tidak membawa kartu ATM ke Lombok, dan membawa duit yang pas-pasan. "Ah, let see what will happen to me! Ini bakalan seru!"

Di perjalanan dari Padang Bai ke Ubung, aku berkenalan dengan seorang ibu yang hobi traveling. Ia mengaku sudah 18 bulan sudah berkeliling Indonesia. Ia juga sudah mendaki Gunung Rinjani, meskipun belum sampai puncak.

Ibu yang satu ini tidak menyebutkan namanya. Tetapi berdasarkan ceritanya, ia sangat menyukai hal-hal yang berbau sejarah.


Terminal Ubung - Gilimanuk

Angkot yang aku naiki sampai di Ubung menjelang senja. Sang sopir tidak menurunkanku di terminalnya langsung, tetapi di jalan setelah terminal. sepertinya sang sopir tidak ingin aku menghadapi calo-calo di terminal tersebut. Karena, memang sangat ramai sekali waktu itu.

"Mas, kamu turun disini, tunggu saja nanti ada bus jurusan ke Gilimanuk, langsung naik. lebih aman nunggu bis disini," Pesan sang sopir.

Sambil menunggu bus, aku ngobrol banyak dengan ibu-ibu tadi. Ia menyarankanku untuk sering-sering bepergian, mumpung masih muda. Uang jangan dijadikan persoalan, karena masa muda lebih membutuhkan banyak pengalaman daripada sekedar mengumpulkan uang.

"Jangan terlalu pelit mengeluarkan uang, kalau itu bisa mendatangkan pengalaman"

Adzan maghrib berkumandang di Bali. Bus yang aku naiki hendak melewati perbatasan kota Denpasar. Sang ibu tadi ternyata turun dari bus. Sebelum turun, ibu tadi berbisik padaku, "Mas, saya punya facebook, ini alamatnya. Semoga lain waktu bisa bertemu lagi di tempat jalan-jalan lainnya. Ongkosmu di bis ini sudah saya bayarin,"

Aku kaget dan sangat berterimakasih dengan ibu-ibu tadi.

Pukul 20.30, bus yang aku naiki sampai di Gilimanuk. Akupun bergegas masuk Pelabuhan dan memesan tiket seharga Rp 8.000,-.


Gilimanuk - Pelabuhan Ketapang



Kapal yang mengangkutku menuju pelabuhan Ketapang sudah banyak kemajuan. Tempat duduk penumpang memakai sofa, ada ruang AC nya, ada TV layar besar dan musholanya sangat bersih. Aku sangat menikmati perjalanan di kapal itu, sambil sesekali teringat kebaikan sang ibu tadi.

Karena dari tadi siang aku belum makan, sebelum kapal berangkat, aku membeli nasi bungkus seharga Rp 5.000,- yang dijual para pedagang asongan di pinggir kapal. Harga yang murah dan mengenyangkan.


Sensasi Menginap di Emperan Stasiun Favorit Para Backpacker, Stasiun Banyuwangi Baru



Pukul 22.00 WIB, aku sampai di Pelabuhan Ketapang. Sesampainya di pelabuhan, aku langsung menuju ke stasiun Banyuwangi Baru yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan. Ternyata, walaupun sudah malam, banyak calon penumpang yang sedang beristirahat di emperan stasiun ini.

Menurut pengamatanku, para calon penumpang ini mayoritas anak-anak muda yang sedang menunggu kereta Sri Tanjung esok pagi. Dari barang bawaannya yang besar-besar, tas ransel, dan pakaiannya yang apa adanya, adalah ciri-ciri backpacker.

"Pasti mereka baru jalan-jalan di Baluran, Gunung Ijen, atau dari Bromo," Aku menebak.

Al hasil, malam itu aku bermalam di stasiun Banyuwangi Baru bersama puluhan calon penumpang yang tertidur pulas.


Banyuwangi - Jogja


Perjalanan panjang dari Banyuwangi menuju Jogjakarta menjadi seru, karena teman satu bangku yang duduk bersama saya adalah anak-anak muda yang kebetulan suka dunia traveling. Total ada 5 teman baru yang aku kenal saat naik kereta Sri Tanjung tersebut.

Masing-masing dari kami menceritakan pengalaman unik selama backpackeran. Ada yang pernah kehabisan duit di perbatasan Thailand Malaysia, ada yang pernah berantem di Jakarta dan sebagainya.

"Rizqi, kenapa kamu tidak ambil paket liburan saja? Biar nggak repot-repot ganti-ganti kendaraan, bisa langsung sampai di Jogja?" Salah seorang teman menanyakan hal ini kepadaku.

"Aku lebih suka backpacker secara estafet. Berpindah-pindah kendaraan. Kalau aku naik bus jurusan Jogja ke Lombok, bisa saja. Tapi, aku nggak bakal dapat apa-apa kalau tau-tau sudah sampai di Lombok," Aku menjawab sekenanya.

Pukul 20.30 WIB, kereta api Sri Tanjung yang aku naiki akhirnya sampai di kota paling romantis di Indonesia, Yogyakarta.


Perkiraan Rincian Biaya Lombok - Jogja via Darat
(Berlaku juga sebaliknya)



Transportasi

Dari Terminal Mandalika Ke Pelabuhan Lembar : Rp 30.000
Kapal Ferry Lombok - Bali : Rp 40.000 (Tanpa calo)
Pelabuhan Padang Bai - Terminal Ubung : Rp 70.000,-
Ubung - Pelabuhan Gilimanuk : Rp 40.000,-
Gilimanuk - Pelabuhan Ketapang : Rp 8.000,-
Sri Tanjung ke Jogja : Rp50.000,-

Total transportasi : Rp 238.000,-

Makan
Makan 2 x 2 hari @ Rp10.000 = Rp40.000

Total biaya Lombok - Jogja jalur darat : Rp280.000

Nah, dengan 280ribuan, kamu sudah bisa sampai di Lombok. Tinggal dikalikan dua untuk biaya pulang pergi dan ditambah biaya transportasi, penginapan, makan, dan tiket masuk tempat wisata selama di Lombok.


Oleh : Rizqi Akbarsyah

Scroll To Top