Sweta Kartika: "Grey & Jingga", "Nusantaranger", dan Rahasia Sukses Sebagai Komikus

Pernah jatuh cinta dan sulit mengungkapkannya? Hal itulah yang terjadi pada dua tokoh utama dalam serial komik strip “Grey dan Jingga”. Serial komik yang fenomenal di dunia maya ini menceritakan dua anak muda yang saling jatuh cinta, namun butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari dan mengakuinya. Chapter pertama dipublikasikan di Facebook pada akhir tahun 2012. Sang komikus, Sweta Kartika, mempublikasikan chapter-chapter selanjutnya setiap Senin dan Kamis hingga tamat pada awal tahun ini.



Apa yang membuat serial komik “Grey dan Jingga” fenomenal? Pertama, ceritanya simpel tapi mengena. Dengan gaya teenlit yang ringan namun menggelitik, pembaca dibuat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Kedua, para tokoh memiliki karakter yang kompleks dan menarik. Jingga bagaikan langit senja yang memendarkan kelembutan. Ia agak galak dan meletup-letup, tetapi sifatnya itu perlahan luntur pada orang yang disukainya. Sedangkan Grey pendiam, suka menyembunyikan perasaan, tetapi sangat perhatian pada orang yang disayanginya. Ia bagaikan awan kelabu yang mengantar senja pulang. Selain Grey dan Jingga, ada tokoh-tokoh sampingan yaitu Zahra, Martin, Dharma, dan Nina.

Grey dan Jingga adalah teman semasa kecil karena mereka hidup bertetangga. Selepas SD, Grey pindah rumah sehingga mereka berdua terpisah. Namun takdir mempertemukan mereka kembali saat kuliah. Jingga mengambil Jurusan Sastra Indonesia, sedangkan Grey mengambil Jurusan Seni Musik. Mereka sama-sama bergabung dalam klub teater. Akibat sering berinteraksi dalam kelompok tersebut, perlahan tumbuh rasa suka pada keduanya.

Grey mengekspresikan perasaannya pada Jingga melalui perhatian-perhatian kecil. Misalnya saja saat Jingga kepanasan, Grey langsung melindunginya dari terik matahari. Pada kesempatan lain, Grey menawarkan jaketnya pada Jingga supaya tidak kehujanan. Namun Jingga masih menanggapi perhatian Grey dengan malu-malu. Saat Grey menawarkan jaketnya, pada awalnya Jingga menolak, tetapi akhirnya menerimanya. Ia juga tidak bisa secara gamblang menyatakan rasa kangennya pada Grey. Meski demikian, kedua tokoh ini tampak harmonis karena intuisi mereka saling sambung. Misalnya saja saat Grey pergi ke toko buku, ia membelikan CD yang ingin dipesan Jingga tanpa perlu diberitahu.



Hubungan Grey dan Jingga mengalami pergolakan saat muncul tokoh baru, yaitu Martin. Karena tertarik pada Jingga, ia melakukan pendekatan. Jingga pun jadi lebih sering bersama Martin daripada Grey. Kondisi ini membuat Grey cemburu, namun sayang ia tak mampu mengungkapkannya. Kemudian muncul tokoh baru lagi yaitu Nina, mantan kekasih Grey. Ia kembali mendekati Grey karena masih menyukainya. Dengan hadirnya Martin dan Nina, Jingga dan Grey tak lagi sering bersama. Mereka berdua pun bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ia cemburu?”

Kisah cinta Grey dan Jingga turut diwarnai dengan kehadiran Zahra dan Dharma. Zahra sering memberi nasihat untuk Grey dan Jingga. Seringkali ia menceritakan perkembangan cinta mereka berdua pada Dharma. Kekasihnya ini suka memberi tanggapan-tanggapan yang filosofis. Misalnya saja ia pernah berkata bahwa terkadang orang yang susah move on itu bukan karena tidak mampu, melainkan karena sudah terlanjur asyik dengan penderitaannya.

Sweta Kartika mampu merepresentasikan tokoh-tokohnya dengan baik. Saat membaca komik ini, pembaca seolah membaca kisah tentang dirinya sendiri. Sebab, latar belakang cerita adalah dunia perkuliahan yang sudah akrab dengan pembaca. Selain itu sifat-sifat Grey dan Jingga merepresentasikan sifat laki-laki dan perempuan secara umum. Misalnya saja saat Jingga mengganti bingkai kacamatanya. Ia ingin dipuji oleh Grey, tetapi tidak mengatakannya secara langsung. Ia justru memberi kode-kode yang tidak bisa dipahami oleh Grey.

Kisah ini akan lebih sempurna lagi seandainya karakter Grey dan Jingga dikembangkan dengan lebih maksimal. Dari awal hingga akhir cerita, tidak tampak perubahan yang signifikan pada karakter Jingga. Yang berkembang justru karakter beberapa tokoh sampingan. Jalan cerita yang mudah ditebak juga menjadi satu poin yang sebenarnya masih bisa diperkuat lagi. Namun dengan kemampuan artistiknya, Sweta Kartika mampu membuat pembaca tertarik untuk mengikuti cerita sampai akhir. Gambar Sweta Kartika memang khas dan menarik. Dengan goresan yang lembut dan warna-warna pastel, ia berhasil membangun suasana cerita yang nyaman.

Sebagai komikus, Sweta Kartika memang sudah menarik perhatian dalam dunia perkomikan. Lulusan DKV ITB ini telah menerbitkan karyanya yang berjudul “The Dreamcatchers”. Kemudian pada Juni 2014, komik “Grey dan Jingga” yang semula hanya bisa dinikmati secara online juga diterbitkan versi cetaknya. Dengan langkah ini, semoga komik Indonesia semakin berkembang dan mampu bersaing di kancah internasional.

Ingin tahu lebih jauh tentang Sweta Kartika, kreator ulung di balik terciptanya Grey & Jingga? Berikut wawancara tim Pizna dengan Sweta sensei yang dilakukan di acara MangaFest Yogyakarta, bulan November 2014.




Hi Mas Sweta Kartika. Darimana Anda mendapatkan inspirasi untuk Grey and Jingga? Dan bagaimana sih sebenarnya sosok para karakter dari sudut pandang Anda?

Grey and Jingga muncul untuk merespon pasangan yang bikin status-status galau untuk pacar mereka. Awalnya saya ingin menegur mereka secara langsung tapi sebel juga kan. Terus saya berpikir, keren juga ya kalau di bikin komik, Akhirnya muncullah Grey and Jingga ini.

Grey mewakili para pembaca laki-laki dan Jingga mewakili para pembaca wanita. Dua sosok ini bukanlah sosok yang sempurna, pastinya para pembaca tahu lah, kalau setiap tokoh utama cerita bukanlah sosok yang sempurna, dan itu kenapa ada tokoh pendukung.

Sebagai tokoh pendukung, ada Dharma dan Zahra, sosok ideal dimana setiap pembaca seolah-olah merasa kedua krakter ini adalah yang paling sempurna.

Martin dan Nina juga mewakili karakter sosok yang sempurna tetapi mereka tidak memiliki banyak penggemar

Zaki adalah tipe karakter pribadi yang oportunis, dia adalah orang yang paling gampang mengucapkan hal-hal yang susah di katakan orang lain. Contohnya, ngomong cinta padahal orang lain mau bilang susah. Buat Zaki, hal itu gampang diucapkan.


Dari komik Grey & Jingga, apakah ada tokoh favorit dari Mas Sweta sebagai kreator?

Nggak ada, semua tokoh saya anggap sama. Desain karakter saya sama ratakan perlakuannya, makannya saya bisa memposisikan karakter sesuai dengan apa yang saya inginkan. Memfavoritkan satu karakter dalam komik kita itu bahaya lho. Kalau ada komikus yang sudah suka dengan satu karakternya saja, bisa jadi karakter itu-itu saja yang diekspos. Bisa jadi karakter yang lain nggak kebagian peran.


Dari karakter Dharma nih Mas, apakah tokoh Dharma ini adalah Mas Sweta sendiri?




Jadi begini, saya itu selalu mewakilkan diri saya sendiri dalam cerita apapun, memang, tapi itu bukan berarti diri saya. Contohnya gini, di Wanara saya jadi Seta, di Nusantaranger saya jadi Rangga, di The Dreamcatcher saya jadi Profesor Stefanus, dan dalam Grey & Jingga saya jadi Dharma.
Intinya, saya punya karakter saya di setiap komik-komik saya, setiap cerita. Mungkin kalau nanti saya menciptakan komik lagi, di situ juga ada karakter saya, karena saya perlu menyampaikan gagasan dalam versi saya di dalam komik.


Kenapa kami bertanya “apakah Mas Sweta itu Dharma?”, karena setelah kami mengamati, Mas Sweta itu sering berfoto dengan kucing atau kelinci, dan Dharma juga sering bawa-bawa kelinci. Gimana nih pendapat Mas Sweta tentang pikiran kami?

Itu kebetulan aja mas, soalnya istri saya kan dagang kelinci. Orang tua istri saya jualan kelinci, ya terus istri saya jadi tokoh Zahra dalam Grey & Jingga.


Jadi inspirasi tokoh ini juga sedikit dari dagang kelinci itu ya, Mas?

Iya, sebetulnya, karena istri saya juga seneng sama kelinci.


Bagaimana cara Mas Sweta dalam menentukan tema dan dieksekusi menjadi komik? apakah selalu melakukan riset?

Saya nggak pernah riset yang dalam sih, kan saya dapat inspirasi Grey & Jingga juga dari kenyataan yang terjadi di dunia para remaja dan muda-mudi yang beraktivitas secara galau di medsos.


Menurut Mas Sweta sendiri, apa sih mas kelebihan dari komik Grey & Jingga? Bisa diceritakan rahasia sukses di balik Grey & Jingga?


Sweta Kartika di acara MangaFest bersama tim Pizna.com


Selama ini komikus Indonesia lebih memilih untuk berkarya dalam alur yang biasa saja dan sering dilakukan banyak orang, yaitu dengan membuat produk dan menjual produk tersebut kepada para audiens atau penikmat komik. Cara ini aku pandang sudah terlalu biasa dan untuk menghasilkan profit kurang sesuai dengan apa yang diharapkan. Di sini saya membalik alur dengan cara membuka/ membuat pasar dengan menciptakan group-group dulu, kemudan membuat produk, kemudian pasar akan berjalan dengan sendirinya.

Saya pertama kali launching komik episode 1-5 itu masih ngetag-ngetag 4-5 orang. Tentunya orang-orang ini yang punya banyak teman. Pada awalnya saya hanya dapat 14 like atau followers, tapi ketika saya berkarya selama 1,5 tahun dan tamat, akhirnya ada 14.000 like/followers.

Saya berpikir, membuat karya seperti ini kok sepertinya kurang menguntungkan, jadi saya lebih memilih menerbitkan secara online dan gratis. Soalnya cerita dan gambarnya menurut saya biasa aja, tapi yang bagus memang di story telling-nya. Kemudian saya menerbitkannya juga hanya setiap hari Senin dan Kamis. Kenapa hari senin? Kan banyak banget orang yang berpikiran “I Hate Monday”. Nah, saya ingin menghilangkan jargon I Hate Monday ini dengan adanya Grey & Jingga. Dengan itu, orang-orang pecintanya pasti akan menunggu-nunggu karena komik ini terbit jam 00.00, Komiknya kan udah gratis tapi karena banyak penggemarnya jadi saya bikin merchandise-nya dan itu laku habis. Disinilah letak nilai ekonominya.

Banyak juga yang sudah meminang komik saya buat diterbitkan, tapi saya menolak karena saya rasa ini nggak bakalan laku. Alasannya, komik ini kan udah diterbitin gratis di Facebook, jadi siapa yang mau beli? Sampai akhirnya ada teman saya yang pengen nerbitin, dan oke lah yaudah, dan ternyata itu laku, sampai ribuan copy. Buat Grey & Jingga “The Twilight’ bisa didapetin di Gramedia terdekat.  Nah buat Grey & Jingga yang selanjutnya sengaja saya buat kurang halamannya, jadi kalau ada yang mau nerbitin, jumlah halamannya di bawah standar penerbitan....jadinya nggak bisa diterbitkan.

Komik ini juga disesuai dengan budaya dan kearifan lokal kita. Anda tahu kalau di Jepang orang adanya setiap hari berteriak saat berbicara dan komik serta film-film nya rata-rata begitu karena sesuai dengan budaya mereka. Nah, di Indonesia kan macam-macam, dan pastinya jarang kita temui orang yang setiap hari kalau berbicara berteriak. Makannya di komik ini terasa lengkap dengan berbagai macam karakter.

Merespon remaja yang berbagi status  yang selalu status galau dan ingin memanifestasikan dalam bentuk komik, sebenarnya komiknya itu biasa saja, yang penting itu adalah penyampaiannya. Konsep ini saya dapatkan saat kuliah di jurusan DKV ITB. DKV bukan untuk tempat belajar gambar tapi tempat belajar mengkomunikasikan cerita dalam bentuk gambar agar masyarakat tahu,


Gimana sih Mas suka dukanya "Grey & Jingga", dari 14 ke 14.000 like/ followers?

Pernah saya  mau piknik ke Pandeglang, Serang, Banten. Pagi hari, saya itu lupa kalau waktu itu hari Kamis. Saya bilang ke teman saya “Ih….Yuk, ini hari Kamis ya?” Kemudian temen saya jawab,”Kenapa, boss?”
Waduh…setelah liat jam, waktu itu udah jam 06.00 pagi, aku langsung bikin komiknya di Pandeglang. Terus aku tanya nih, scannernya pake apa ya? Yaudah…aku fotoin aja pakai HP. Kalau di foto sekaligus blur dan nggak jelas, aku foto lah dari beberapa sudut, langsung aku gabungin di laptop. Nah, waktu mau upload……nyari internet nggak nemu-nemu warnet, sedangkan kalau lebih jauh lagi nggak bakalan nemu internet dan nggak ada signal. Akhirnya aku nemu warnet, dan upload di warnet itu.

Selama ngerjain Grey & Jingga nggak ada dukanya sih, hampir semuanya suka, dan pengalamannya seru. 

Saya pernah riset 5 hari di Tual, Kepulauan Tayando. Itu Jakarta ke Maluku 2,5 jam, terus Maluku ke Tual 1,5 jam, terus dari Tual ke Tayando naik kapal 12 jam. Wow…itu sudah saya udah bayangin di awal bakalan nggak ada signal, internet, telepon,  out of nowhere.

Terus biar komik ini tetep jalan, aku udah nitip sebelumnya ke adik saya yang di Solo buat upload ke medsos. Jadi aku bikin komik semalem sebelum ke Bandara sama Faza Meong “Si Juki”. Saya bikin di rumahnya Faza, dicepet-cepetin sama si Faza, terus udah selesai langsung aku scan, and kirim ke adikku yang di Solo. Semuanya baru terkirim waktu saya sudah boarding, udah mau naik pesawat. Oalah…Alhamdulillah. Dan selama 5 hari itu saya nggak tahu ada komentar apa di komik Grey & Jingga yang di upload adik saya. Baru bisa ngecek komentar-komentar 5 hari setelah pulang dari Tayando.


Ok, keren banget ceritanya. Kita juga penasaran sama salah satu karya Mas Sweta, Nusantaranger. Darimana dapat inspirasi bikin Nusantaranger?




Inspirasi awalnya datang dari fans JKT48. Ada banyak fans yang dengan sukarela mempublikasikan, bikin page, grup, postingan grup tentang JKT48. Nah, Nusantaranger akhirnya bisa memiliki fanbase sendiri yang bernama Jagawana. Setelah beberapa waktu, mereka muncul dengan sendirinya dari berbagai kota. Hampir mirip-mirip fans band Gigi seperti Gigi Kita Jogja, Gigi Kita Cirebon, Gigi Kita Bandung, dan lain-lain.


Dari Nusantaranger sendiri, kita ingin menyampaikan dan mengenalkan kepada anak-anak tentang Indonesia karena tokoh-tokoh utamanya benar-benar berlatar Indonesia. Dengan Nusantaranger anak-anak Indonesia bisa mengenal Elang Jawa (karakter Nusantaranger warna Merah), Atau Hiu Gergaji yang di dunia hanya ada di Papua, yaitu Hiu Air Tawar yang hidup di Danau Sentani. Kadang sampai ada ibu-ibu yang kasih testimoni, bahwa Nusantaranger sangat bagus karena itu bisa di tonton oleh semua kalangan.


Bagaimana dengan dukungan dari keluarga? Fenomena yang terjadi, saat ini banyak remaja yang ingin menjadi komikus, tapi tidak mendapat dukungan, bahkan dilarang oleh orang tua?

Well, pada dasarnya ayah saya sendiri adalah seorang komikus dan sangat mendukung kegiatan saya. Beliau hanya berpesan, saya harus 10 kali lipat lebih hebat dari dia, dan inilah yang selalu saya perjuangkan.


Apakah Mas Sweta butuh suasana khusus dalam menulis, menggambar, dan menciptakan sebuah komik?

Nggak Mas. Jadi, kalau sudah masuk ke dalam dunia industri kita nggak pakai suasana khusus karena kita dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang cepat. Kalau saya mengandalkan suasana, butuh mood khusus, kapan beresnya? Yang penting cari waktu dan jadi aja dimanapun. Saya sekarang kalau kemana-mana pasti selalu membawa kerjaan saya, jadi nggak peduli dengan suasana apakah itu ramai, sepi, galau, yang penting kerja dan menghasilkan karya.


Mengenai tools ini mas, untuk alat-alat yang digunakan dalam menciptakan karya, apakah ada alat dan aplikasi khusus yang digunakan Mas Sweta?

Gini, saya ini komikus miskin. Maksudnya, semua peralatan bisa saya dapatkan dimanapun. Contoh ni mas, kayak pensil 2B bisa dibeli dimana-mana, drawing pen yang dua belas ribuan juga bisa dibeli di toko-toko alat tulis, atau spidol yang tiga ribu atau dua ribu lima ratusan dapat dua belas warna di warung-warung juga ada. Intinya, saya adalah komikus yang tidak terikat dengan alat. Yang penting produktif dan hasilnya nyata.



Kalau untuk alat-alat semacam drawing pad, tablet, dan alat-alat digital apakah Mas Sweta juga memakainya?

Untuk itu saya tetep pakai, tapi alat utama saya yang manual itu tadi. Intinya bukan berarti saya terus tidak memakai sama sekali alat-alat digital, karena itu juga keperluan. Kalau misal saya lagi ada pekerjaan yang harus cepet diselesaikan ya saya pakai. So, kadang-kadang pakai dan kadang-kadang enggak.


Apakah Mas Sweta memiliki waktu khusus dalam mengerjakan sebuah komik?

Ya itu ada. Waktu paling spesial adalah ketika bangun tidur sekitar jam 04.30 pagi habis sholat subuh sampai jam 09.00 pagi, ini waktu paling produktif. Setelah itu saya ya sudah mulai banyak urusan dan melakukan kegiatan-kegiatan manusiawi seperti sarapan, nge-print, dan lain-lain. Setelah itu, barulah saya bener-bener membutuhkan waktu khusus untuk ngerjain pekerjaan saya.


Pernakah Mas Sweta merasa bosan, atau mungkin ketika berkarya tiba-tiba merasakan "writer's block"?

Saya malah nggak pernah merasakan hal itu. Malah ide saya yang terlalu banyak yang ingin didistribusikan, jadi saya malah bingung . Kalau saya ada 10, kayak ilmunya Naruto ‘Kagebunshin’ , saya bisa eksekusi semua itu ide saya dalam satu waktu dan bisa jadi 10 komik...hehehe...


Untuk referensi tema dan teknis dalam membuat karakter, apakah Mas Sweta pernah mengambil dari komik lain? Seperti Naruto, One Piece atau ada yang lain? 

Enggak, Istilahnya bukan sebagai referensi ya, tapi kayak membedah karakter. Saya tahu ketika membedah karakter komik Dragon Ball, Naruto, dan One Piece, ternyata... karakter utamanya selalu saja sama di pewatakannya. Watak dari para toko utama ini rata-rata kekanak-kanakan, kuat banget, tapi ya kekanak-kanakan intinya. Setelah saya pahami semuanya, karakter dari tiga tokoh komik itu sama semuanya. Ada yang tahu kenapa? Karena mereka semuanya itu satu guru.
Nah, bedanya dengan saya adalah, tipikal saya adalah komikus yang membedah karakter.  Contoh, tokoh A karakternya seperti ini, B seperti ini, kelebihan A di sini, B di sana, jadi saya bisa mengaplikasikannya ke dalam tokoh komik buatan saya.


Sebagai seorang komikus nih mas, pasti punya dong tokoh panutan atau idola? Siapa sih komikus favorit dari Mas Sweta?

Saya suka Urasawa Naoki dari segi story tellingnya. Kenapa? Karena Urasawa Naoki ini sinematografis, jadi mirip film gitu.

Ada lagi, Takehiko Inoue, saya suka komikus ini dari segi anatomi.

Kalau untuk pengambilan angle-nya, saya suka Hiroaki Samura, dia yang buat Blade of the Immortal. Angle-nya sangat bagus kenapa? Karena dia bisa memanfaatkan panel yang begitu kecil untuk kejadian yang sangat penting.

Nah, jadi saya orangnya seperti itu, masing-masing porsinya beda-beda. Kalau Urasawa bilang “you are what you read”. Jadi, orang itu kalau sudah baca komik Naruto, adanya cuman Naruto terus, kalau dia bikin komik nanti semuanya mirip sama apa yang dia baca. Jadi saya suka komikus nggak secara total. Komikus A saya suka bagian ini, B saya suka bagian lain,.


Untuk Mas Sweta sendiri, komik favoritnya apa sih Mas?

Wah, kalau saya malah nggak baca komik. Saya berhenti baca komik sejak SMP sampai sekarang. Kalaupun saya beli komik cuman dibeli, lihat-lihat gambarnya langsung tutup. Jadi, nggak pernah beli urut, baca urut, saya beli nomornya juga acak sesuak saya hanya untuk referensi sebentar lalu ditutup, karena saya takut terpengaruh.


Menurut Mas Sweta sendiri, komik-komik yang ada di Indonesia prospeknya seperti apa sih?

Untuk industrinya bagus banget, tapi kalau kita nggak bisa ngejar dari kualitasnya, jadinya sama aja butut lah. Jadi, komikusnya juga harus lebih professional meningkatkan kualitas. Untuk kualitas ini bukan hanya sekedar dari gambarnya, tapi bagaimana si komikus juga memahami konsep marketing. Bagaimana cara jualan, bagaimana cara menguasai market dengan baik. Memang kualitas gambar utama dan harus diperhatikan, tapi ada yang lebih utama lagi yaitu marketingnya.


Menurut Mas Sweta, bagaimana sih caranya meningkatkan industri komik di Indonesia?

Kalau menurut saya ada tiga faktor: Komikus-Penerbit-Pemerintah, dan 3 hal tersebut haru bekerja sama dengan baik.

Poin dasarnya adalah komikus ini harus berkarya dengan baik, dan kualitas komiknya harus bener-bener bagus, karena nanti akan masuk ke penerbit.

Penerbit adalah pedagang. Kita nggak bisa salahin penerbit, karena mereka adalah pedagang yang hanya mau menjual barang yang benar-benar bagus. Jadi, gimana mau jual barang yang bagus kalau kualitas komik yang kita bikin jelek, itu nggak akan bisa laris.
Komikus mau maksa-maksa, “Terbitin dong, kamu kan penerbit terkenal di Indonesia!” itu nggak bakalan bisa kalau kualitas barangnya jelek. Pedagang pasti bilang, “Gue pedagang, gua cuman jual barang yang bagus, loe bikin barang bagus, gue cetak banyak, gue jual!”

Grey & Jingga, dianggap barang yang bagus meski gambarnya butut, tapi marketnya memang bagus. Maksudnya pasarnya bagus itu dinilai dari banyak segi lho ya, bukan hanya kualitas, tapi sampai ke marketing, begitulah kira-kira. Grey & Jingga di anggap bagus, penerbit mau cetak banyak dan memasarkan, ini linear banget kok.

Nah peran pemerintah di sini tugasnya adalah membuat payung hukum.  Jadi, nanti ketika Grey & Jingga ada yang jiplak dan mirip, saya bisa ngeklaim kalau itu punya saya. Soalnya itu merampas dua hak, pertama hak cipta dan yang kedua adalah hak ekonomi. Mungkin kalau hak cipta dirampas masih nggak papa, karena urgentnya kecil kayak misalnya ada orang bikin poster “Twinkle” gede banget, ya itu nggak papa kalau cuman buat fun art aja. Kayak misal, ada orang nyetak baju “Nusantaranger” sendiri, nggak papa asal tidak diperjual belikan. Kenapa nggak boleh? Karena itu merampas hak ekonomi seorang penciptanya. Nah yang paling nggak enak kan kalau dirampas hak ekonominya, itu karya saya kok orang lain memanfaatkan tanpa seijin saya.

Jadi intinya gini, ada atau tidak ada pemerintah kita harus tetep maju dan survive, misal ada itu lebih bagus. Jangan sampai ketika dukungan pemerintah tidak ada terus kita jadi drop gitu. Nggak ada ceritanya seperti itu, tapi bagi komikus yang tangguh lho ya. Semuanya kembali pada poin yang pertama, kalau sampai kita nggak bisa konsisten dalam menciptakan karya, ya kita kayak menggantungkan nasib diri sama pemerintah, akhirnya bisa hancur kalau seperti itu.


Sedikit pertanyaan "out of topic" nih...apa sih hubungan Mas Sweta Kartika dengan QDJY, salah satu komik yang juga sangat unik dan populer di media sosial?



Yang pertama, pengarang Qdjy itu bukan saya, itu temen main bareng aja, jadi komunitas gitu. Jadi saya bikin komunitas, ehh…sebenarnya bukan komunitas sih, mirip satu geng dengan nama Qdjy. Dulu juga punya band dengan nama Qdjy Band. Dulu gayanya nggak kayak gitu, ya gaya 2.0 pokoknya nggak jelas deh.

Tiba-tiba kita bikin republik, yang waktu itu anggotanya tujuh terus berkurang satu akhirnya jadi enam. Dari enam yang satu nggak aktif akhirnya jadi lima, 5 Kabinet. Bikin Kabinet, presidennya fiksi, si Qdjy itu. Jadi di Facebook ada sendiri yang ngurus akunnya, di Twitter ada yang ngurus sendiri, dan saya jadi menteri propaganda yang tugasnya menyusupkan Qdjy di setiap karya saya.

Jadi memang ada hubungannya, soalnya kita memang bareng-bareng. Untuk Qdjy sendiri kita punya masyarakat, kita mem-"branding" masyarakat kita dengan nama masyarakat Qdjy. Dulu kita rutin banget, sampe bikin Undang-Undang Dasar lengkap, peraturan-peraturan, kayak kalau di Indonesia nyetir itu di kiri, tapi kalau di Qdjy itu di tengah. Bener-bener kita nyiptain negara sendiri.

Kita memang menciptakan pasar sendiri, awalnya orang yang nggak suka sama Qdjy jadi suka, Bahkan yang follow kita ada Joshua, Otong Koil, dan  mereka juga bilang kalau itu bagus. Memang awalnya susah, tapi lama-lama dengan keunikan bahasanya bisa membuat orang itu suka dan itu menjadi cirri khas dan daya tarik.

Akhirnya kita juga bikin program tentang “Qdjy mensimetriskan umat”, “Qdjy mensetarakan umat, mukanya sama semuanya”, “Qdjy menukar umat”, pokoke aneh-aneh lah.”
Kita bikin program dan itu memang sebuah agenda yang sudah direncanakan dan dibentuk sejak 2007 sampai sekarang.


Pesan-pesan untuk mahasiswa Indonesia dari seorang Sweta Kartika sendiri gimana nih, Mas?

Kalau untuk yang seneng sama komik, mulailah hunting-hunting komik Indonesia yang tersebar di medsos-medsos. Jadi jangan cuman mengagungkan komik luar negeri dan menghujat komik Indonesia.  Kalau saya pribadi, gimana caranya temen-temen penggemar komik merubah pola pikir, budaya, dan cara pandang umum terhadap komik. Terus jangan sampai kita sebagai pembaca komik berpikiran, komik itu bacaan anak-anak, komik hanya produk untuk anak kecil, kan nggak gitu juga sebetulnya. Karena culture nya seperti itu, kita sebagai kreator yang baru mulai ngomik, atau yang nggak mendapat restu dari orang tua, yang “mother blessing-nya nggak dapet”  dia harus bisa meyakinkan dengan karya yang bagus dan membuktikan, “Ini lho aku bisa sukses dengan menjadi seorang komikus!”

 Saya punya jokes kecil seperti ini:

Ada seorang laki-laki, dia guru SMA ketemu muridnya tanya “Kamu dari mana?” Muridnya terus jawab “ Dari beli komik pak!”
Guru tanya lagi, “ Udah gede, SMA masih aja baca komik!” (marah-marah ngejek)
Murid, “ Lah, emangnya bapak darimana?”
Guru,”Dari nonton film, Iron Man bagus banget itu filmnya?”
Murid,” Komik Iron Man pak, Bapak tahu nggak sih, kalau film itu awalnya dari komik!”
Guru,”Oh…(mlongo)!”
Jadi mereka harus segera diberi pemahaman dengan contoh kayak Stan Lee (Stanley Martin Lieber –Marvel Comics) seorang komikus milyarder yang sukses dari sebuah komik.

Kalau saya sangat setuju dengan konsep Pak Anis Baswedan
“Jangan berpikir ketika keluar/lulus mau kerja dimana, tapi berpikir kamu mau berkarya apa!”

Kadang saya sebel sama orang yang berpikiran kalau lulus kerja dimana. Saya sejak kecil (SD) sudah tahu saya mau bikin apa. Waktu SD saya sudah berpikir kalau “Saya mau jadi komikus terkenal Indonesia yang membuat karya tentang Indonesia”, dan sampai sekarang itu sudah terwujud.
Terus kalau untuk masalah mengejar cita-cita untuk remaja yang masih dini “Gantungkan cita-citamu setinggi-tingginya!”

Saya juga dapat quote dari ibu ketika waktu itu saya sedang bikin komik, saya nyeletuk bilang ke ibu Saya, “Bu, saya mau jadi komikus terkenal di Indonesia.”
Ibu saya,”Ah itu naggung, mendingan langsung jadi komikus internasional!”
Saya,”Ah nggak usah mimpi ketinggian deh bu, berbahaya nanti.”
Ibu,”Yang berbahaya itu bukan karena kamu menggantungkan mimpi setinggi langit dan sulit untuk dicapai, Justru yang berbahaya kalau kamu punya mimpi yang terlalu rendah dan kamu mudah dalam mencapainya, di situ kamu akan merasa cepat puas.”

Makannya samapi sekarang kalau saya punya goal yang sangat tinggi saya akan kejar sampai kemanapun dan kapanpun, dan ketika saya menyerah saya sudah berada di puncak tertinggi dan paling tidak itu akan lebih tinggi dari goal yang pertama.

Jadi intinya jangan mudah berpuas diri, karena saya adalah orang yang tidak pernah puas. Buktinya sekarang saya bikin komik cerita cinta, padahal awalnya Wanara, The Dreamcatcher; komik yang "mikir banget" model Inception. Eh sekarang bikin Grey & Jingga, ceritanya percintaan, Twilight gitu lah ibaratnya kayak New Moon. Sekarang saya udah ganti lagi ke Raga Sukma. Jadi saya nggak bisa puas dengans atu karya, saya harus selalu eksplo dan eksplore, sehingga bisa punya kemajemukan karya dan pola pikir.


Nah, itu tadi adalah wawancara kami dengan Sweta Kartika. Dari interview ini, kita bisa mempelajari banyak hal yang benar-benar luar biasa untuk diterapkan. Dedikasi, kecintaan, dan totalitas seorang Sweta Kartika dalam dunia komik Indonesia juga patut diacungi jempol. Semoga Mas Sweta makin sukses, dan dunia komik Indonesia makin maju!

Jangan lupa untuk terus mengikuti karya-karya Sweta Kartika dengan mengunjungi website-website berikut:
Facebook Grey & Jingga
Twitter: @SwetaKartika
Nusantaranger

Written by:
Imam Sultan As-Sidiq
Ratu Pandan Wangi

Reporter:
Aulia Rahman Alboneh
Gogor Teguh Bawono

Scroll To Top