Remaja Penyandang Cacat yang Berhasil Hidup Mandiri

"Pertanyaan terbesar bukanlah tentang Apa yang tidak bisa mereka lakukan?, tapi Bagaimana mereka dapat melakukannya? Dan bagaimana mereka membuat dunia merasa malu dengan motivasi dan kegigihan mereka?"

Tidak ada yang menginginkan terlahir dalam keadaan cacat. Tapi siapa yang bisa menolak kenyataan? Mau tidak mau mereka memang harus menerimanya. Dan cara terbaik dalam menjalani hidup adalah dengan menerima segala kekurangan dan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi berarti.

Di bawah ini adalah anak-anak dan remaja luar biasa yang akan mengetuk hati dan memberikan inspirasi untuk kita semua. Mereka bisa melakukan apa yang kata orang mustahil untuk dilakukan oleh orang yang memiliki keterbatasan. Mereka mampu menunjukkan kepada semua orang bahwa semua orang boleh bermimpi dan tidak batasan untuk menginginkan apapun yang mereka inginkan.


Ben Underwood
(Anak yang bisa melihat dengan telinganya)


Ben adalah seorang remaja yang luar biasa, ia mencintai skateboard, bersepeda, bermain sepak bola, dan basket. Itu biasa saja kan untuk ukuran seorang anak California berusia 14 tahun yang seusianya? Memang. Lalu apa yang membuatnya luar biasa? Ini menjadi luar biasa karena dia melakukan semua kegiatan itu dengan kenyataan jika dia buta. Bagaimana menurut kalian? Bisakah kalian melakukan semua kegiatan di atas dengan mata tertutup? Coba saja.

Ia menjadi buta setelah didiagnosa menderita kanker retina sehingga kedua matanya harus diangkat di usia dua tahun. Jadi, bagaimana dia bisa melakukan semua kegiatan itu? Dia menggunakan trik menentukan tempat melalui gema, yaitu teknik navigasi yang digunakan oleh kelelawar, lumba-lumba, dan beberapa mamalia lainnya.

Dia sangat baik dalam membedakan antara mobil dan truk yang diparkir, dan jika kamu membawanya ke rumah yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya, dia akan memberitahu kamu di mana letak tangga, dapur, dan ruangan lainnya. Dia bahkan bisa membedakan bahan-bahan yang berbeda.

Namun semangatnya harus berhenti karena kanker yang menyebar ke otak dan tulang belakangnya. Dia akhirnya meninggal dunia pada bulan januari 2009 di usia 16 tahun.
Masih sangat muda bukan?


Tilly Griffiths


Ketika berusia 1 tahun, Tilly didiagnosis menderita atrofi otot tulang belakang, kondisi genetik di mana otot-ototnya melemah (Berhentinya pertumbuhan otot di tulang belakang).

Saat ini usianya sudah 13 tahun. Ia juga telah menulis sebuah buku tentang kisah hidupnya yang berjudul "Tilly Smiles".Terlepas dari penyakit yang dideritanya, gadis ini bisa bermain ski, menari, terbang layang, dan lain sebagainya.

Tilly juga berkontribusi dengan menjadi bagian dari anak-anak Caudwell, dia membantu untuk mengumpulkan banyak uang untuk membeli lebih banyak kursi roda seperti Tilly.

Ia benar-benar memberi inspirasi bagi anak-anak yang memiliki kondisi sama seperti dirinya, selain itu dia juga memiliki ambisi untuk pergi belajar ke Los Angeles. Keterbatasan fisik tidak pernah membuatnya menjadi minder atau menjadi anak yang pemalu. Ia tumbuh menjadi seorang anak penuh keberanian dan motivasi, ia bahkan tumbuh jauh melampaui anak-anak seusianya yang memiliki fisik sempurna.


Patrick Henry Hughes


Patrick adalah seorang pemuda yang luar biasa yang terlahir tanpa mata dan tanpa kemampuan untuk meluruskan lengan dan kakinya, sehingga membuatnya tidak bisa berjalan (Ia terlahir dalam keadaan buta dan lumpuh). Selain itu, ada dua batang baja yang melekat pada tulang belakangnya untuk memperbaiki penyakit skoliosis yang dideritanya.

Meskipun terlahir dengan keadaan seperti itu, Patrick dapat membuktikan kalau ternyata keterbatasan fisik bisa membuatnya unggul sebagai musisi dan mahasiswa. Ia bahkan sudah mulai bermain piano pada usia 9 bulan, memainkan terompet dan bernyanyi. Dia juga berpartisipasi di Marching Band Univesitas Louisville  dengan bantuan dari ayahnya.

Patrick juga telah memenangkan berbagai kompetisi, serta memenangkan penghargaan. Dia telah tampil di ESPN, ABC-TV, Oprah, CBS-TV, The Ellen Show, Extreme Make Over Home Edition,FOX-TV, CSTV, NBC-TV, MillionDollar Round Table, The Grand Ole opry, People Magazine, Sports Illustrated, Stra Magazine, dan banyak outlet lainnya.


M. Ade Irawan


Ia lahir pada 15 januari 1994 di Colchester, Inggris, dalam keadaan tuna netra. Namun keterbatasan fisiknya tidak membuatnya terpuruk, semua itu justru membuatnya lebih giat mempertajam penggunaan indera-indera lainnya.

Pada usia 7 tahun, ia sudah berteman baik dengan sebuah keybord Casio dan ia menjadi pengagum seorang musisi jazz bernama George Benson. Dan setahun kemudian ia memilih jazz sebagai musik pilihannya.

Menginjak usia belasan tahun permainan piano Ade semakin luar biasa, dan ia tampil di Chicago Winter Jazz Festival pada tahun 2006 dan 2007, saat itu usianya baru 12 tahun.

Ade juga mengikuti audisi khusus dengan musisi jazz seperti AS, seperti Coco Elysses Hevia, Peter Saxe, dan lainnya. Ia juga mempelajari huruf Braille Fransworth School plus dan menjadi pianis tetap pada acara musik di sekolah tersebut dan di Jazz Links Jam Session di Chicago Cultural Center.

Bakat Ade juga mendapatkan perhatian dari musisi jazz tanah air hingga bos MURI , Jaya Suprana. Jaya membuatkan Ade pagelaran resital tunggal pada Juni 2010 lalu.


Stephanie Handojo


Ia mengidap downsyndrom sejak lahir, tapi meskipun memiliki kekurangan, ia dapat membuktikan kalau dia mampu berprestasi.

Ia lahir pada tahun 1991. Dan mengagumkannya lagi karena sudah sejak kecil ia mengikuti banyak kegiatan positif, khususnya di bidang olahraga, seperti berenang dan bulutangkis. Bahkan saat berusia 12 tahun, ia berhasil meraih juara 1 dalam kejuaraan Porcada. Hebat bukan?

Bukan hanya itu, ia juga tercata dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) karena mampu bermain piano dengan 22 lagu selama 2 jam. Ia juga terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang Special Olympics World 2011 di Athena, Yunani dan meraih medali emas dari cabang renang nomor 50 meter gaya dada. Ia memang benar-benar menakjubkan. Bukan begitu?

Anushka


Ia adalah seorang anak berusia 12 tahun, yang terlahir dalam keadaan tuna rungu. Ia tinggal di Newport. Namun terlepas dari kondisinya, dia menikmati hidupnya seperti anak-anak normal lainnya, dia pergi ke taman bermain, nonton teater, berenang, dan aktif dalam kelompok anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik seperti dirinya.

Dia suka pergi ke bioskop,berolahraga dan bermain dengan teman-teman seusianya. Dia tidak pernah merasa malu untuk berbaur dengan orang lain dengan keterbatasan yang dimilikinya.

Oleh: Desy L

Scroll To Top