[PENTING] BACA INI! Ini Sebab Mengapa Kamu Harus STOP ikut Bimbel

Pasti kamu tahu lah definisi dari bimbel. Ya gimana enggak, lembaga bimbingan belajar itu emang udah ada di mana-mana, kayak jamur di musim ujan.  Tapi, pernah gak sih kamu bertanya  “Bimbel tuh penting ga sebenarnya?”

Kenapa ikut bimbel?  Sebenernya bimbel tu buat apaan sih? Fungsi konkritnya ya jelas biar nilaimu bagus, dan lulus berbagai macam ulangan dan ujian (UN/SBMPTN/UM). Nah berarti, pertanyaannya adalah: “apakah dengan belajar di sekolah, sudah cukup?”. Kalo yang merasa belum cukup, ya sebaiknya ada pelajaran tambahan di luar sekolah dong.

Ah, masa sih? Harus gitu ikut bimbel? Oke, dibawah ini adalah alasan kenapa kamu sebaiknya enggak ikut bimbel.


Bimbel : Membatasi waktu untuk bisa bersosialisasi dan quality time dengan keluarga


Oke, alasan ini sifatnya opsional ya, ga semuanya bener. Disesuaikan dengan diri kamu masing-masing. Ada orang yang memang dasarnya ga suka bersosialisasi tapi juga enggak ikutan bimbel. Tapi, pada dasarnya kalo kita bimbel, waktu untuk bersosialisasi dan waktu buat ngumpul sama keluarga, ngobrolin hal-hal seru dengan mereka juga akan berkurang. Pulang sekolah, langsung ke tempat bimbel, pulangnya malem. Sepulang dari bimbel, kamu udah capek sehingga kamu lebih banyak memutuskan untuk tidur. Nah, ini berulang terus, dari SD, SMP, sampai SMA. Bahkan, di universitas sendiri kadang-kadang ada juga yang namanya bimbel. Kalo gini, kamu ga akan sempet buat bersosialisasi dong, dan ini ga keren banget. Tau kan kalo manusia itu pada dasarnya makhluk sosial?


Bimbel : mahal, buang-buang duit


Sudah menjadi rahasia umum kalo bimbel itu mahal, bisa mencapai jutaan rupiah. Ini artinya sama atau malah lebih mahal dari bayaran uang sekolah di SMA negeri dan swasta kelas menengah selama setahun. Apalagi untuk Bimbingan Belajar yang memiliki alumnus yang sudah diterima di sekolah favorit atau universitas ternama. Hal ini menjadi bahan promosi yang bagus untuk menggaet calon siswa. Soal biaya bimbel, di kota kecil seperti Madiun, misalnya, peserta bimbel harus membayar rata-rata Rp 2 juta untuk bisa lulus UN dan lolos ujian masuk PTN. Di Jakarta, biaya bimbel sekitar Rp 6 juta. Untuk program khusus, biayanya Rp 12 juta-Rp 15 juta selama tak sampai setahun.


Bimbel : membuat kemampuan  pelajar meningkat sementara dan akhirnya menjadi karbitan


 Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI) Zulkarnaen Sinaga mengatakan, bimbel hanya membuat pelajar meningkat sementara dan menjadi karbitan. Apalagi, kebanyakan ikut bimbel hanya pada saat mau mengikuti UN, atau seleksi penerimaan mahasiswa baru semacam SBMPTN, SNMPTN, atau UM.  Bimbel hanya pada saat kamu memiliki kebutuhan yang waktunya relatif singkat. Nah, setelah Ujian, kebanyakan juga akan melupakan materi pelajaran yang pernah dipelajari. Sama saja, kemampuan akan menurun lagi.


Bimbel : membuat pola pikir menjadi praktis dan instan


Sebagian besar bimbingan belajar mengajarkan cara cepat atau cara praktis dalam mengerjakan soal. Akibatnya, pemahaman akan materi pelajaran hanya di permukaannya saja. Siswa hanya akan terpaku bagaimana cara mengerjakan soal, bagaimana cara mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya tanpa memperhatikan pemahaman kepada materi pelajaran tersebut. Nah, akan lebih baik kalau memperbaiki kualitas belajar tidak hanya dilakukan menjelang UN tetapi mendisiplinkan diri untuk lebih fokus terhadap pelajaran yang akan diujikan. Hal ini akan membuat penyerapan materi belajar tidak setengah-setengah dan akan lebih maksimal.


Bimbel :  menyalahi fungsi pendidikan karena menghambat pola pikir



Pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. H. Said Hamid Hasan, M.A mengatakan, bimbel hanya mengajarkan siswa untuk memilih jalan pintas dalam mengisi soal UN.
Hal tersebut sudah menyalahi fungsi pendidikan. Pasalnya dengan cara tersebut tidak mengajarkan siswa untuk mengembangkan kreativitas dalam menjawab soal-soal ujian. Hal ini sama saja dengan menyalahi fungsi pendidikan yang sebenarnya bertujuan supaya siswa dapat lebih berkembang dalam cara berpikirnya.

Sayangnya, hal ini sudah berimbas pada orang tua yang terpengaruhi oleh gempuran informasi dari lembaga penyelenggara bimbel yang saat ini sudah menjamur. Padahal, sudah saatnya orang tua menyadari pentingnya perkembangan pola berpikir anak dengan mengedepankan kreativitas.


Bimbel : sarana (hanya) buat adu gengsi


Eksistensi bimbel ssat ini sudah menjadi gaya hidup, dengan maraknya lembaga bimbel yang beradu gengsi. Tak terbantahkan, si anak tengah dipertaruhkan dalam situasi gengsi dan prestasi. Begitupun bagi orang tua yang mengedepankan prestise.


LAST : Jangan ikut bimbel kalo kamu mau tes SBMPTN atau UM


Why? Bimbel mengajarkan cara cepat dalam mengerjakan soal, cara cepat ini dicapai dengan mengajarkan rumus cepat atau instan, tanpa mengajarkan dasar pemahaman tentang materi tersebut. Hal ini berbahaya, karena tipe soal SBMPTN atau UM berbeda dengan tipe soal UN, karena SBMPTN atau UM merupakan tipe soal analitis, jadi pemahaman dasar akan materi sangat diperlukan disini. Bahkan, ada satu lembaga bimbingan belajar dengan nama yang sudah terkenal pada tahun ini tidak berhasil meloloskan siswa satu kelasnya dalam menembus seleksi SBMPTN.


Jadi, perlukah bimbel untuk masa depan kamu? Semua kembali kepada kondisi kamu. Ada baiknya, sebelum memutuskan ikut bimbel, tanyakan kepada diri sendiri kelebihan dan kekurangannya.
Jadi, pintar-pintarlah untuk memilih. Toh, dengan belajar mandiri secara konsisten dan disiplin juga bisa membuat kamu lulus UN maupun lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru kok.

Arditya G.F

Scroll To Top