Orang-Orang Ini Berhasil Sukses Karena Transmigrasi

Menjadi transmigran memang nggak mudah, apa lagi di awal masa transmigrasi pasti banyakan dukanya dibandingkan sukanya. Sebagian orang tidak mampu melewatinya dan sebagian yang lain bisa, mereka bahkan bisa membuktikan kalau mereka bisa menjadi jauh lebih baik, lebih sukses, dan lebih bahagia. Well, kalau sudah begini baru deh banyak yang nyesel dan bilang "Kenapa gue dulu gak bertahan jadi transmigran ya?"

Mau tau siapa aja orang-orang yang berhasil sukses karena transmigrasi? Orang-orang di bawah ini akan membuka pikiran kamu kalau sebenernya jadi transmigran itu bukan pilihan yang buruk dan salah. Meskipun prosesnya nggak mudah, tapi baca saja bagaimana kesaksian mereka dan betapa bahagianya kehidupan mereka saat ini.


Haji Sukarno


Ia adalah seorang transmigran sukses yang berasal dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Delanggu Klaten, Jawa tengah yang bertransmigrasi ke Desa Paya Dedep, Kecamatan Jagong Jeget Aceh Tengah.

Pada tahun 1982, ia dan orangtuanya tiba di lokasi yang terletak ditengah-tengah belantara Aceh. Saat itu jalan menuju lokasi transmigrasi sejauh 30 km itu sangat parah, dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Wah bayangin deh gimana kalau kita harus jalan kaki sejauh 30km?

Tapi sekarang semua jerih payah itu telah terbayar, ia yang sejak awal memang mempunyai hobi fotografer, ia kemudian menjadi fotografer tunggal di desa tersebut dengan bermodal kamera Ricoh yang dibawanya dari Klaten. Warga transmigran sering minta difoto dan kemudian hasilnya dikirimkan kepada keluarga mereka di Jawa, tapi ia tidak dibayar dengan uang, lebih sering dibayar dengan ikan asin. Ia juga pernah menjadi kuli panggul pupuk dengan jarak antar sekitar 40km.

Kini ia berhasil menjadi orang tersukses di kawasan transmigrasi Jagong Jeget, ia memiliki kebun kopi seluas 8 hektar, memelihara 14 ekor sapi. Ia dapat memberikan istri dan anak-anaknya kehidupan dan pendidikan yang layak. Anaknya yang sulung sudah menjadi guru, dua orang lagi masih kuliah, dan yang bungsu masih duduk di bangku SMA.


Slamet Kastalo


Ia adalah seorang transmigran asal Boyolali yang bertransmigrasi ke Singkut, Jambi, 30 tahun yang lalu. Awalnya dia hanyalah seorang PPL yang digaji 32 ribu, dan setelah menikah ia lebih giat lagi, sehabis shalat tarawih, ia mencangkul hingga menjelang sahur dan sekarang? Perjuangan dan kerja kerasnya terbayar sudah.

Dari kerja kerasnya ia telah memiliki hampir 150 hektar kebun karet dengan penghasilan Rp 200 juta perbulan. Kini kedua anaknya kuliah di Yogyakarta, di UMY dan UPN. Ia mengaku aset yang dimilikinya lebih dari Rp 3 Miliar, termasuk 3 petak kebun yang ditanami pohon jati di Wonosari dan tiga unit rumah di Yogyakarta. Sedangkan kendaraan yang dimilikinya ada empat yakni satu buah mobil mewah Fortuner, Honda Jazz, dan 2 truk. Wah banyak sekali ya? ckck.


 Ponijan Makun


Ia adalah seorang pria asal Banyuwangi yang menikah dengan seorang perempuan asal Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram bagian barat, Maluku yang bertransmigrasi ke Desa Sari Putih, Kecamatan Seram Utara, Timor Kobi, Maluku Tengah.

Saat pertama kali tiba, ia memiliki banyak masalah. Apa saja? Pertama, karena rumah yang akan ditempatinya benar-benar seperti akan roboh, dinding papannya sudah banyak yang lepas, dan memerlukan banyak perbaikan. Yang kedua, tanah yang diberikan Pemerintah adalah tanah mati dan dia harus memutar otak memikirkan bagaimana caranya menggarap lahan tersebut agar produktif. Apa lagi sebelumnya ia berprofesi sebagai atlet bola voli dan benar-benar tidak bisa dengan pekerjaan barunya.

Awalnya ia bertani sayur-sayuran namun karena hasilnya kurang maksimal, ia kemudian berbisnis jasa dengan menjual hasil panen warga ke Sorong. Dan perjuangannya menjadi semakin tidak mudah ketika pecahnya konflik di Ambon.

Tapi atas keuletannya berbisnis sapi, sekarang ia memiliki 112 sapi yang jika dijual harga perekornya adalah Rp 10 juta, ia memiliki aset sebesar Rp 1,1 Miliar, dan dari kegiatan mengolah lahan pertanian dan sapi ia bisa mendapatkan omset sekitar Rp 900 juta pertahun.


Waliyem dan Wandiyo


Transmigran asal Godean dan Tumut, Sleman, Yogyakarta ini bertemu di daerah transmigrasi (Bungo, Jambi) dan seminggu kemudian menikah. Kalian bisa bayangin sendiri gimana sedihnya menjadi transmigran yang tidak punya bekal modal maupun pendidikan. Awalnya Waliem berjualan nasi bungkusdi penyeberangan sungai dekat tempat tinggalnya, dan suaminya bekerja sebagai buruh penyadap karet.

Lalu bagaimana kelanjutan perjalanan mereka? Terinspirasi dari rasa tidak nyaman yang timbul karena rumah mereka beratapkan seng yang panas, pasangan ini kemudian mulai memproduksi genteng dalam sekala kecil.

Dan bermula dari jualan genteng ini, mereka akhirnya bisa membuka toko bangunan dan menjadi pemborong untuk pembangunan rumah sekaligus mengisi mebelernya.
Tips kesuksesan mereka adalah karena mereka mengambil kesempatan sekecil apapun yang ada di depan mata, dan akhirnya bisa sukses seperti hari ini.


Sunarno


Ia adalah transmigran asal Jawa Tengah yang bertransmigrasi ke Riau, berawal dari menggarap lahan sawit seluas 2 hektar, karena kesabaran dan kerja kerasnya kini ia sudah memiliki 10 hektar lebih kebun sawit. Dari kebun sawitnya, kini ia berpenghasilan minimal 20 juta perbulan.


Cokro Sugimo


Ia adalah seorang transmigran asal Karang Anyar, Jawa Tengah yang bertransmigrasi ke Kabupaten Tana Tidung, KalimantanTimur. Dari usaha bertani serta industri rumahan pengolahan keripik/kerupuk, dan beternak. Kini ia memiliki penghasilan sekitar Rp 26,5 juta perbulan atau Rp 318 juta pertahun.


Zaenal Arifin


Transmigran asal Cilacap, Jawa Tengah yang bertransmigrasi ke UPT Kumai Seberang-Kota Waringin Barat Kalimantan Tengah ini kini berpenghasilan sekitar Rp 193,15 juta pertahun dari hasil bertani dan berdagang.

Oleh: Desy L

Scroll To Top