7 Novel Bertema Pendidikan Terbaik di Dunia

Laskar Pelangi Oleh Andrea Hirata


Novel karya Andrea Hirata ini berkisah tentang 10 anak yang bersekolah di SD, SMP Muhammadiyah di Belitung. Tak hanya itu kamu juga akan disajikan mengenai kisah profesi guru sebagai pendidik dan mata pencaharian, pembaca akan dibawa oleh alur yang menarik. Tak hanya itu melalui tokoh guru ini kita bisa ikut merasakan bagaimana beratnya menjadi guru. Disisi lain harus mencari uang untuk menyambung hidup sedangkan disisi lain harus mendidik putra bangsa.
Tetralogi Lakar Pelangi lainnya juga ada loh, yaitu Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov. Jangan lupa membacanya ya....

Totto-Chan Oleh Tetsuko Kuroyanagi 


Penulis sendiri memiliki banyak kenangan mengenai sekolahnya dulu, namun sekarang sekolahnya sudah luluh lantah. Dia mengumpulkan teman-temannya untuk mengenang kembali cerita seaktu sekolah dulu.

Totto-Chan sendiri bercerita tentang seorang siswa yang sangat aktif sehingga mereka menyebutnya anak nakal. Dia sering ditolak dan dikeluarkan oleh sekolah karena keaktifannya itu. Cerita berlanjut ketika dia bertemu dengan kepala sekolah Sosaku Kobayashi.


Scouting for Boys: A Handbook for Instruction in Good Cityzenship oleh Robert Baden-Powell



Buku ini mengembalikan memori kita pada zaman sekolah dulu. Masih ingat dong dengan pramuka? Yup buku ini ditulis langsung loh sama bapak pramuka dunia yaitu Robert Baden-Powell. Buku ini banyak mengajarkan kita kan nilai budi pengerti, kedisiplinan, mematuhi janji, bersahabat dengan alam dan memecahkan sandi-sandi layaknya boy scout. Tak hanya itu, banyak permaian seru yang disajikan dalam novel ini.


Sakola Rimba atau The Jungle School oleh Butet Manurung



Butet seorang mahasiswi yang sedang menyelesaikan tugas di Universitas Padjajaran. Keputusannya untuk bergabung dengan WARSI dan mmebentuk untuk suku anak dalam di Hutan Dua Belas. Butet dengan segala usaha kersanya ingin mengentaskan buta huruf yang terjadi pada suku anak dalam. Agar mereka tidak dibodohi lagi karena tidak bisa membaca dan berhitung.

Sepak terjang Butet untuk memecahkan mitos yang ada di suku anak dalam bahwa bila ada salah satu dari suku bisa membaca maka akan membawa penyakit dan bencana. Butet harus menjelajahi hutan selama berhari-hari demi mencapai mereka dan mengajarinya.
Bukan untuk uang, namun untuk mereka agar bisa membaca. Ini juga menjadi bukti kekuatan seorang perempuan.

Five Point Someone oleh Chetan Bhagat


Kisah tentang 3 sahabat yang berkuliah di India Institude of Technology (IIT), salah satu universitas paling bergengsi di India. Kamu bakalan tahu mengenai lika-liku kehidupan anak teknik dan segudang masalah yang dihadapi. Seorang mahasiswa yang dianggap bodoh karena memiliki cara pandang belajar yang berbeda dengan lainnya, termasuk profesornya. Kisah persahabatan, percintaan dan keluarga hadir mewarnai novel ini.
Novel ini mengajarkan kita bahwa belajar tak hanya sekedar membaca dan menghafal, namun juga mempraktekannya. Fersi filmnya juga sudah muncul dengan judul Three Idiots.
Dua Belas Pasang Mata atau Nijushi No Hitomi oleh Sakae Tsuboi


Guru Oishi ditugaskan mengajar di desa nelayan tepatnya Laur Seto. Ia mendapat 12 murid diantaranya 7 perempuan dan 5 laki-laki. Semenjak kedatangan guru Oishi mereka tidak pernah terlambat berangkat ke sekolah. Rasa sayang mereka terhadap guru Oishi sangatlah mendalam. Terbukti ketika kaki guru Oishi terluka dan tidak bisa mengajar, para murid tercintanya datang ke rumahnya. Mereka tidak menyadarinya bahwa jalan ditempuh sangatlah jauh.

Situasi perang juga menjadi latar belakang cerita ini. Diceritakan juga bahwa guru Oishi tidak menyukai tentara, ada salah satu muridnya yang bercita-cita menjadi tentara. Dengan sedikit kecewa kenapa dia ingin menjadi tentara, guru Oishi tidak ingin muridnya mati muda dalam perang.

The Diary Of Ma Yan oleh Pierre Haski


Pierre Haski sendiri adalah wartawan dari Perancis yang bergabung dalam ekspedisi Zhanjiashu. Seorang ibu memaksanya untuk singgah di rumahnya, Pierre mendapatkan surat dan buku kecil bersampul coklat. Tak lain lagi itu adalah curahan hati Ma Yan yang ingin sekali pergi ke sekolah. Ma Yan saat itu berusia 13 tahun, dalam buku tersebut  Ma Yan bercerita mengenai kehidupan sehari-harinya agar bisa sekolah.

Inilah perjuangan gadis kecil yang sangat merindukan sekolah, bayangkan saja untuk membeli pulpen Ma Yan harus rela menahan lapar dan berpuasa. Baginya harga pulpen itu sangat mahal mengingat keadaan ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Diary Ma Yan berhasil menyentuh hati Pirre dan rekannya. Setahun setelah pemberian itu The Diary Of Ma Yan berhasil terbit. Dengan royalti yang di terima Ma Yan, kini dia bisa menikmati bangku sekolah seperti yang diimpikannya.

Oleh: Rusli Asmiyatun 

Scroll To Top