Kisah Asmara dari Empat Generasi

Zaman emang berubah. Termasuk kehidupan asmara manusia-manusia di dalamnya. Dulu, ciuman singkat di pipi itu dianggap sudah menghilangkan kehormatan wanita. Kini?

Coba deh tonton video Pizna. Kamu akan melihat perbedaan corak asmara dari generasi ke generasi. Kali ini Pizna membagi masa-masa asmara menjadi 4 periode besar. Yaitu masa kemerdekaan-orde lama, masa orde baru, masa reformasi, dan masa millennium. Udah berasa baca buku sejarah? :D


1. Jamane Mbahmu (1940-1960)

Pada zaman ini kakek kita dalam masa kejayaan. Masa muda yang enerjik dengan dandanan formal, santun, dan bermartabat. Secara jantan merayu wanita yang kelak kita panggil nenek.

Kisah asmara masih sangat sederhana. Mungkin dipengaruhi ritme kehidupan waktu itu. Meski Sang Presiden dikenal flamboyan, rakyat kecil umumnya sibuk mengisi kemerdekaan selain mengisi perut mereka. No time for love, honey.

Di jaman ini, pemudanya tidak disibukkan update status galau di facebook dan twitter. Bukan karena pemuda era ini tidak pernah galau. Melainkan karena memang jaman itu belum ada facebook kan? :D


Mode komunikasi untuk wanita pujaan pada masa ini masih menggunakan sepucuk surat yang dikirim melalui perantara atau sahabat. Bukan pos lho ya. Gaya berpakaian pun masih sederhana tapi penuh makna. Dimana seorang pria yang akan “ngapel” harus berdandan kasual semi formal dan memperhatikan kesantunan tutur

Aroma tradisional dalam gender juga masih kuat. Prialah yang memimpin, mencari nafkah, dan memulai hubungan asmara. Wanita lebih memegang peranan pasif. Terkesan hanya menguntungkan pria? Coba yuk pikir lagi.

Bayangkan cowok-cowok letoy jaman sekarang dikirim ke masa ini. Mereka tidak bisa lagi manja. Tidak bisa mager di kamar ngetwit galau atau nonton drama di laptop. Mereka harus kerja keras sejak remaja. Menempa mental, mengasah kemampuan mencari nafkah. Untuk hal-hal kecil saja bisa jadi cowok sekarang kalah jantan dibanding kakeknya.

Jaman kakek, pernyataan cinta mestilah dideklarasikan secara lantang. Surat cinta pun mesti diikuti dengan bertamu langsung. Secara gentle menemui kedua orang tua wanita. Tidak bisa seperti sekarang. Nembak lewat SMS. Kalau ditolak tinggal bilang,"Tadi cuma becanda kok. hehe.. hehe.. hehe.."

Pada jaman itu memang pria lebih dominan. Tetapi, tempaan hidup membuat mereka dewasa. Mereka benar-benar mengayomi keluarga. Bukan kekanak-kanakan mengekang istri. Pria memang diposisikan sebagai pemimpin. Tapi tidak menyalahgunakan kekuasaannya.

2. Jamane Bapak (1970-1980)

Inilah era peralihan menuju Indonesia yang lebih modern. Invasi budaya barat semakin gencar setelah presiden Soeharto membuka pintu lebar pada investor asing. Pada masa ini hubungan pria dan wanita masih tetap menjunjung tinggi norma sosial yang berlaku.

Inilah era lelaki pemanggul senjata menjelma "Ksatria Bergitar". Setiap malam Minggu, si cowok ngapel dengan membawa gitar. Memetik melodi-melodi penakluk pujaan hati. Menyanyi dan bergitar adalah kemampuan dasar lelaki untuk bermain asmara.

Semakin populernya Koes Plus menandai peralihan masa asmara ini. Lirik lagu yang lebih liar, dandanan yang lebih santai, seolah ingin mendobrak tradisi sebelumnya yang  kaku. Terlihat dari etika ngapel yang lebih longgar.

Cowok-cowok tidak mesti berambut klimis dan berkata sesuai EYD. Bahkan, mereka mulai berani mengajak wanita jalan-jalan. Ya, jangan kaget. "Ngajak jalan." Itu dulu udah wow banget !





Pria tidak lagi memiliki dominasi total. Selain pria semakin berpikiran terbuka, wanita berpendidikan tinggi makin banyak.

3. Eranya Kita-kita (1980-2000)

Manner alias tata cara percintaan makin cair. Mulai dari topik obrolan, cara pakaian, sampai tahap hubungan. Peranan teknologi informasi mempengaruhi corak asmara muda mudi jaman ini. Tayangan TV dan radio menjadi 'panutan' bagaimana seharusnya berpacaran. Dari TV kita belajar istilah gebetan, ngapel, ngegaul, dan sebagainya. Radio digunakan untuk berkirim-kirim salam. Bahkan, ada yang berani menyatakan cinta lewat radio.

Begitu juga teknologi komunikasi berupa ponsel yang mulai merebak. Di sinilah tradisi minta nomer dimulai. Kita mulai menciye-ciye teman kita yang terlihat mojok dengan ponselnya. Nokia dan Siemens masih jadi barang mewah di kantong kita. Tempat-tempat nongkrong menjamur. Membuat drama "tebar kode" menjadi SOP wanita jaman ini.



Yang menjadi keprihatinan kita bersama adalah pergaulan bebas mulai menjadi di era ini. Film-film erotis yang membuat kita terkejut,"Jaman dulu film Indonesia ada yang sampe kayak gitu??" turut memacu nafsu pemuda. 

Gandeng tangan dan boncengan yang dulu dianggap tabu, kini dianggap biasa banget. Kedekatan fisik semakin melintasi batas. Hal ini membuat kita khawatir,"Jaman sekarang aja kaya gini. Apalagi nanti?"

Nah, mungkin masa depan membuatmu khawatir. Ada baiknya kita nostalgia dulu. Coba deh baca

4. “C1nT4nY4  4n4K  4L4Y”)

P4d4  m45A  1Ni  Pe12C1nTaAn  53m4KiN 12uM1T. Gaya asmara yang dimulai dari medio 2010 ini mengusung tema kebebasan berekspresi. Era teknologi informasi menjadi salah satu pemicu massif nya trayek surat asmara via satelit.

Cinta anak muda sekarang nambah seru. Banyak aturan yang menabrak aturan normatif yang jaman menjadi standarnya orang pacaran. Kalau dulu bila ingin bertemu harus kontak mata langsung, nah sekarang via BBM aja udah cukup. Gak perlu ngapel dan buat janji di hari esoknya.

Beberapa pengamat menyebutkan model percintaan seperti ini sudah menabrak norma sosial yang berlaku. Parahnya putus nyambung bisa dilakukan via layar sentuh. Komunikasi yang dibangun pun tidak menyentuh ranah emosional kedua insan. Banyak yang sekedar pacaran tanpa perlu menciptakan "emotional bonding".


Dengan gaya pacaran yang seperti ini untungnya sisi baik manusia masih muncul kok. Beberapa kata bijak seolah menjadi pengontrol, salah satunya “kalau pingin dikabari terus, pacaran aja sama Koran”. Tentunya untuk remaja yang mengenyam periode millennium sekarang ini cukup paham dengan wisdom diatas.

Jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah asalkan masih bisa berbicara via suara. Kesannya sih seperti mengabaikan norma sosial yang berlaku. Yang dikhawatirkan bisa menggerogoti sedikit demi sedikit sendi kesantunan yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Tapi banyak juga yang saling miss komunication. Pada dasarnya cowok menggunakan logika jadi gak ngerti bila cewek memberi kode dalam intonasi suaranya.

Yang seru dari gaya pacaran ini adalah kepekaan. Pada masa ini kepekaan merupakan soft-skill yang luar biasa dibutuhkan dan merupakan requirement wajib bagi mereka yang sedang dilanda asmara. Kalau kayak gini seseorang harus menjadi pegawai BIN atau setidaknya pernah magang di NSA untuk bisa menguraikan kode asmara.

Hal ini umumnya dialami kaum cowok yang menerima kiriman "random code" dari si cewek. Inginya cewek itu sebelum meminta, si cowok harus sudah menyediakan. Ini nih yang menjadi bingung di kalangan para cowok. Zaman sekarang kepekaan dituntut untuk saling mengerti.

Yuk bicara mengenai LDR (long distance relationship), jarak yang memisahkan dua insan. Nah dalam kasus ini keprcayaan masing-masing pasangan akan diuji. Masalah uang sepertinya tidak menjadi halangan karena dompet mereka masih diisi oleh orangtua.

Emansipasi wanita pada masa ini mencapai puncak kejayaanya, wanita bisa menyatakan cinta terlebih dahulu, tidak harus melulu menunggu kepekaan pria. Terlebih lagi soal keyakinan dan prinsip hidup. Generasi zaman ini semakin terbuka menyikapi perbedaan. Semakin banyak hal yang bisa dikompromikan agar terciptanya hubungan yang harmonis .

Kedewasaan menjadi semakin matang pada zaman ini, betapa tidak, ada saja wanita yang menerima pria dengan segala kekuranganya dan berharap bisa merubah menjadi lebih baik. Wanita berharap pria bisa berubah seiringnya waktu, sedangkan pria tidak ingin wanitanya berubah dikemudian hari. Kenyataannya pria tidak akan pernah berubah, namun wanita akan berubah.

Scroll To Top