14 Hal yang Membuatmu Bangga jadi Wong Jogja TAPI ...

Yogyakarta merupakan Daerah Istimewa yang dinamis. Para pendatang yang disambut secara terbuka terus mewarnai kota budaya ini. Wong Jogja memiliki kebanggaan tersendiri pada kotanya. Di sisi lain, ada fenomena yang terus membuat Jogja mesti berbenah. 


Pizna telah merangkumnya untuk kamu.


1. Kami bangga karena Jogja punya masyarakat yang sopan, tenggang rasa, dan masih “kula nuwun” (permisi) setiap kali lewat di suatu tempat.

Bukan bangga dengan budaya terburu-buru, saling serobot, asal cepet sampai yang menyusahkan orang lain. 




2. Kami bangga karena Jogja punya predikat kota pelajar. Didatangi mahasiswa berbagai daerah maupun luar negeri yang serius menuntut ilmu dan berprestasi di kota ini.


Bukan bangga dengan predikat kota yang justru dibanjiri perilaku hedonis mahasiswa lokal maupun luar.




3. Kami bangga karena Jogja sering disebut "berhati nyaman". Tempat yang serba tentram. Jalan ke manapun terasa aman dan damai bebas kejahatan.



Dan kami tidak bangga melihat aksi teror, klitih, pembacokan yang membuat kota kami terasa gelap dan “berhenti nyaman”.




4. Kami bangga dengan kota kami yang dikenal ramah. Di mana orang saling menyapa, bisa ngobrol akrab di manapun walau baru ketemu. Bahkan, saling membantu.


Bukan bangga dengan masyarakat yang hanya sibuk dengan gawainya. Sibuk ngetwit hingga lupa untuk beraksi nyata.



5. Kami bangga karena katanya Jogja itu tempatnya orang-orang terpelajar. Berbicara santun, dipikir baik-baik, dan lebih memilih untuk diam kalau nggak bermanfaat. Wong Jogja kalau ngomong kadang butuh basa-basi panjang, dengan bahasa yang diperhalus karena takut menyakiti orang lain.



Bukan bangga dengan perilaku yang asal vokal, sok mengkritisi dengan bahasa yang kasar, dan kalau dikritik balik langsung ditolak mentah-mentah dengan arogan.



6. Kami bangga dengan kehalusan budi pekerti kami yang bahkan marah pun bisa diekspresikan dengan diam.


Kami tidak bangga dengan perilaku emosional yang menyatakan pendapat sembari bersuara tinggi. Tidak pula dengan sikap marah yang berakhir dengan liang lahat.



7. Kami bangga karena katanya setiap sudut Jogja adalah ruang untuk berekspresi, tempat berkreasi dan berkarya. Rumah bagi banyak komunitas untuk berkembang dan dihargai.



Bukan bangga dengan baliho, spanduk, dan poster komersial yang memenuhi kota ini. Seolah-olah hidup kita belum cukup dijejali iklan. Bukan pula dengan pola pikir SARA yang semakin sensitif.




8. Kami bangga karena Jogja punya warung-warung dengan harga yang bersahabat buat mahasiswa. Dikelola dengan sangat kekeluargaan. Kita boleh ngutang kalau lagi nggak punya uang.



Bukan bangga dengan tempat-tempat modern berharga mahal, yang sepertinya didirikan cuma buat menyedot uang masyarakat sebanyak-banyaknya.



9. Kami bangga karena Jogja merupakan tempat lahirnya pusat-pusat pendidikan, kantong-kantong budaya, dan komunitas-komunitas kreatif


Bukan bangga karena lahirnya mall, hotel, dan apartemen mewah yang justru mempersempit kreativitas warganya.




10. Kami bangga dengan Jogja. Kampung dan desa masih menjadi tempat yang “ngangenin” untuk mudik karena hangat akan senyum, salam, sapa warganya. Belum lagi alamnya yang masih sejuk dengan lebatnya pohon tinggi dan kicauan burung.



Bukan bangga dengan macetnya kota yang riuh oleh kendaraan dan asapnya.





11. Kami bangga karena orang jogja yang dikenal “nrimo ing pandum” (menerima apa adanya) tanpa banyak menuntut dan rewel. Karena sedikit keberkahan sudah cukup membuat senyum, tidak perlu materi berlebih.



Bukan bangga dengan tipe manusia serakah yang menghalalkan segala cara untuk materi hingga orang saling sikut dan bunuh demi uang.





12. Kami bangga menjadi Wong Jogja yang terbiasa dengan tata krama sehingga dengan orang tua pun hormat dan berbicara halus.


Bukan bangga dengan mentalitas pemberontak yang berani melawan orangtua dan tidak tahu tata krama.



13. Kami bangga menjadi Wong Jogja karena permasalahan selalu dapat dibicarakan baik-baik dan mengedepankan persaudaraan.



Bukan bangga dengan perilaku kasar. Masalah sering diselesaikan dengan diplomasi senjata.





14. Kami bangga dengan Jogja karena corak tradisional dan modern hidup berdampingan. Satu tidak mendominasi yang lain.


Dan kami tidak bangga dengan kondisi dimana modernitas lambat laun menghilangkan identitas kita sebagai warga berbudaya.



Itulah sekelumit kebanggaan kami menjadi Wong Jogja. Mungkin bala Pizna ingin menambahkan? Monggo kemawon :)

oleh A. Rahman Alboneh

Scroll To Top