Film-Film Indonesia dan Mancanegara Tentang HIV/AIDS

Banyak orang yang belum tahu tentang HIV/AIDS, khususnya orang-orang yang memiliki sumber informasi terbatas seperti di pedalaman Indonesia.

Dan sebagian besar orang yang tahu juga memilih untuk tidak ingin tahu tentang bahaya HIV/AIDS.
Itulah mengapa setiap 1 Desember diperingati sebagai hari HIV/AIDS. Tujuannya tidak lain adalah untuk menyadarkan seluruh masyrakat dunia agar lebih waspada terhadap penyakit ini.

Setiap negara memiliki cerita berbeda tentang bagaimana HIV/AIDS menular. Dan setiap penderita memiliki kisahnya sendiri yang layak untuk didengar dan di apresiasi.

Di bawah ini adalah beberapa film dari Indonesia maupun Mancanegara yang akan menyadarkan kita akan bahaya HIV/AIDS. Beberapa di antaranya memang benar-benar diangkat dari kisah nyata, sebagai bahan pelajaran untuk kita semua.
Selamat membaca!


Waktu Aku Sama Mika


Film layar lebar ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama “Waktu Aku Sama Mika”. Film ini secara langsung menyampaikan pesan moral tentang bagaimana agar remaja lebih membuka mata terkait informasi HIV/AIDS yang masih sulit diakses di Indonesia, sehingga menimbulkan banyak persepsi dan informasi yang salah.

Tapi Indi,dengan tulus menceritakan film ini, dia menggambarkan perkenalan antara Indi dan Mika memberikan banyak kebaikan. Indi adalah seorang penderita Skoliosis dan Mika asalah seorang penderita HIV.

Sejak kehadiran Mika dalam kehidupan Indi membuat ia bersemangat, hari-harinya kembali diselimuti kebahagiaan. Kehadiran Mika perlahan membuat kondisi skoliosisnya semakin membaik. Besi penyangga tubuh yang awalnya dikenakan selama 23 jam setiap hari rupanya sudah bisa dilepas.

Tapi disaat Indi mulai sembuh dari penyakitnya, HIV membuat kondisi tubuh Mika semakin lemah. Ini membuat Indi sangat terpukul karena telah benar-benar merasakan cinta Mika. Bagi Indi, Mika adalah malaikat tanpa sayap yang membangunkan ia dari mimpi buruknya.

Dan puncak dari film ini terjadi saat akhirnya Mika kalah dalam perjuangan melawan penyakitnya dan meninggal dunia.


Cinta Dari Wamena




Film ini mengangkat kisah persahabatan,cinta, kehidupan remaja, dan keindahan alam Papua. Film ini menceritakan tentang persahabatan 3 anak muda. Mereka bertiga mempunyai mimpi yang besar untuk terus bersekolah. Bukan hanya mimpi, dengan kemauan dan tekad mereka yang kuat mereka meneruskan pendidikan ke Wamena untuk dapat bersekolah gratis.

Tapi ternyata banyak cobaan yang mereka hadapi di sana. Pola hidup kota Wamena benar-benar menguji mimpi serta persahabatan mereka. Puncaknya adalah saat salah satu dari mereka terkena virus HIV.



Omnibus - Perempuan Punya Cerita 
Ketika AIDS merampas hak asuh orangtua atas anak kandungnya


Ya, film ini memang langsung ditarik dari peredaran tak lama setelah tayang di bioskop. Buat kamu yang pernah nonton film ini, pasti nggak asing lagi dong dengan “Cerita Jakarta” yang merupakan salah satu bagian cerita dalam Perempuan Punya Cerita?

Cerita Jakarta mengangkat kisah tentang seorang ibu penderita AIDS, ia harus menderita HIV/AIDS karena tertular oleh suaminya yang sudah lebih dulu meninggal karena penyakit tersebut. Mengetahui menantunya terkena penyakit AIDS, orangtua almarhum suaminya pun memaksa untuk mengambil alih hak asuh anaknya dan menyalahkan perempuan itu atas kematian anak mereka.

Dalam cerita ini ia berusaha menempuh cara apapun agar bisa tetap bersama anaknya. Belum lagi semua hartanya disita karena sebelum meninggal suaminya banyak meninggalkan hutang.

Ia mencoba bertahan hidup bersama anaknya dengan peninggalan yang ala kadarnya dan penyakitnya yang semakin memburuk. Namun pada akhirnya ia menyerah dalam menghadapi masalah penyakit dan juga mertuanya. Karena merasa tidak bisa menjamin masa depan putrinya, ia akhirnya menyerahkan putrinya kepada mertuanya dan ia sendiri berjuang menjalani sisa hidupnya melawan penyaitnya.



Bening 
Apa Jadinya hidup seorang anak yang terpaksa menerima warisan HIV/AIDS?


Film ini bercerita tentang kehidupan seorang anak yang harus menjalani hidup dengan mewarisi HIV/AIDS dari kedua orangtuanya. Namun lahir dengan menderita AIDS tidak membuat ia membenci hidupnya.

Film ini mengajarkan untuk kembali berpikir apa yang akan terjadi kalau kita menjadi pengguna narkoba dan melakukan seks bebas maupun tidak aman. Karena ada kehidupan dan masa depan seorang anak yang mungkin akan terancam akibat perbuatan kita dan menjadi korban hasil perbuatan orangtuanya.



Ulfie Pulang Kampung


Perjuangan seorang waria pengidap HIV/AIDS menghadapi diskriminasi keluarga dan masyarakat
Film ini menceritaka tentang seorang waria asal Aceh yang mengadu nasib di Jakarta.

Ketika sampai di Aceh, Ulfie menemukan kenyataan bahwa sangat sedikit akses informasi tentang HIV/AIDS yang diperoleh oleh masyarakat Aceh, terutama rekan sesame warianya. Melihat kenyataan ini, ia pun berniat untuk melakukan perubahan pada kota kelahirannya.

Namun ternyata, tanpa diketahui oleh ibu dan keluarganya, Ulfie juga merupakan seorang pengidap HIV/AIDS. Meski demikian, ia tetap bertekad membuat perubahan agar masyarakat Aceh bisa mengakses beragam informasi tentang HIV/AIDS.
Tentu saja usahanya tidak berjalan mulus, ia harus menghadapi keluarga dan masyarakat yang tidak mendukung.



An Early Frost (1985)


Film ini adalah film pertama yang dibuat dan ditayangkan di televisi yang mengisahkan HIV/AIDS. Aidan Quinn memainkan peran sebagai seorang pengacara sukses yang kemudian kembali pulang untuk mengunjungi orangtuanya. Yang kemudian mengungkapkan bahwa mereka berdua adalah gay dan mengidap AIDS.


Parting Glances (1986)


Film ini menceritakan tentang kehidupan Michael (Richard Ganoung) dan Robert (John Bolger). Robert bersiap untuk berangkat ke Afrika untuk sebuah tugas jangka panjang dan Michael bersama mantannya,Nick (Steve Buscemi), seorang punK rock yang memerangi AIDS seperti dia membuat bandnya besar.

Direktur pertama film ini, Bill Sherwood meninggal karena komlikasi AIDS pada tahun 1990 tanpa sempat menyelesaikan film lain.



As Is (1986)


Ini adalah salah satu drama pertama yang menangani wabah AIDS. Hoffman mengadaptasi drama tentang dampak AIDS terhadap sekelompok teman-teman yang tinggal di New York sebagai produksi acara televisi yang dibintangi oleh Jonathan Hadary, Robert Carradine, dan Colleen Dewhurst.
Longtime Companion (1989).

Film ini dirilis pertama kali untuk menangani topic tentang AIDS. Film ini menceritakan tentang kehidupan sekelompok laki-laki gay (Dermot Mulroney, Bruce Davison, Mark Lemos, Patrick Cassidy, John Dosset dan Stephen Caffrey). Judul ini diambil dari kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan hidup pasangan sesame jenis korban AIDS dalam sebuah artikel di New York Times.



The Living End (1992)


Film ini menceritakan tentang seseorang yang menemukan dua gay yang positif HIV yang melarikan diri setelah salah satu dari mereka membunuh seorang perwira polisi homophobia.


And the Band Played On (1993)


Ini adalah sebuah film drama yang disutradarai oleh Roger Spottiswoode, dan diadaptasi dari sebuah best-selling book yang berjudul “And the Band Played On: Politics, people, and the AIDS Epidemic” karya Randy Shilts.

Film ini menceritakan tentang dokter penyakit epidemic, Don Francis yang sedang berkunjung ke sebuah desa di sekitar daerah Ebola, Zaire pada tahun 1976 dan menemukan para penduduk dan dokter-dokter di sana terjangkit penyakit misterius yang terkenal dengan nama demam berdarah Ebola.

Don mengkhawatirkan penyebaran virus ini akan meluas dan dia yang penasaran dengan penyakit tersebut langsung membuat teori yang intinya menyatakan bahwa penyakit itu disebabkan oleh kegiatan seksual. Namun teori tersebut ditentang oleh kaum gay dan meraka pun tidak mau dituduh sebagai biang keladi atas menyebarnya virus tersebut.
Film ini mendeskripsikan bagaimana pertama kali HIV/AIDS ditemukan.


Philadelphia (1993)


Ini adalah sebuah film drama tentang HIV/AIDS yang diperankan oleh Tom Hanks dan Danzel Washington. Film ini dirilis pada tahun 1993 dan digarap oleh Jonathan Demme. Alur cerita dalam film ini lebih mengedepankan isu HIV/AIDS dan hubungannya dengan isu homoseksualitas yang marak terjadi di Amerika Serikat pada masa itu.

Film ini menceritakan tentang seorang pengacara handal bernama Andrew yang menyembunyikan kelainan homoseksual dan AIDS dari bosnya yang sangat konservatif terhadap homoseksualitas.

Namun pada akhirnya dia dipecat karena ketahuan mengidap AIDS dan dia memutuskan untuk melawan di pengadilan untuk memperjuangkan haknya dalam melawan penyakit yang dideritanya. Kemudian ia menyewa seorang pengacara bernama Joe Miler yang ternyata memiliki ketakutaan akan homoseksualitas, tapi dia harus mengatasi masalah tersebut demi membantu Andrew.




Jeffrey (1995)


Ini adalah sebuah film komedi romantic gays tentang AIDS? Ya. Berdasarkan sebuah drama yang disutradarai oleh Paul Rudnick, film Jeffrey (Steven Weber) telah bersumpah untuk menjauhi semua bentuk seks bersama-sama karena meningkatnya wabah AIDS.

Namun kemudian dia bertemu dengan seorang lelaki sempurna di Michael T. Weiss, seorang lelaki yang menawan, dengan positif HIV yang menentang keyakinannya.


The Cure (1995)


Film ini menceritakan tentang dua anak lelaki muda dari Minnesota yang memulai petualangannya ke New Orleans dengan harapan dapat menemukan obat untuk HIV/AIDS, salah seorang dari mereka sedang sekarat.

Erik, seorang anak penyendiri dengan ibu yang lalai, kemudian menemukan keluarga di Dexter yang tertular penyakit melalui transfuse darah. Ibu Erik tidak menyetujui persahabatan mereka karena prasangka buruk dan kebodohannya sendiri. Tapi ibu Dexter mendukung persahabatan mereka karena hal itu memberikan semangat yang besar untuk anaknya.




A Mother’s Prayer


Ini adalah sebuah film drama tentang HIV/AIDS. Film ini menceritakan tentang seorang janda yang didiagnosa mengidap AIDS, dia harus berjuang tidak hanya untuk mengatasi ketakutan penyakitnya, namun juga berjuang untuk menemukan sebuah keluarga yang dapat mengasuh anaknya yang berusia 8 tahun, sebelum dirinya meninggal.

Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata, dan dirilis pada tahun 1995 dan disutradarai oleh Larry Elikann.


All About My Mother (1999)


Film ini menceritakan tentang seorang single mother bernama Manuela (Cecilia Roth), yang melakukan perjalanan ke Barcelona setelah kehilangan anak lelakinya dalam sebuah kecelakaan mobil.

Di sana Manuela berteman dengan beberapa orang yang memiliki karakter berbeda, termasuk Rosa, seorang biarawati muda, Agrado, juga seorang pelacur waria dan ayah yang diasingkan oleh putranya, Toni, seorang waria meninggal karena AIDS dan dia tidak pernah tahu jika dia memiliki seorang putra.


Angels in America


Ini adalah sebuah miniseri dengan isu HIV/AIDS dan homoseksualitas. Dengan menyisipkan isu runtuhnya kekuasaan presiden Amerika Serikat, Ronals Reegan pada tahun 1985 dan penyebaran wabah AIDS di seluruh Negara bagian Amerika Serikat.

Film ini menceritakan tentang seorang kepala biara bernama Walters yang mengidap penyakit HIV/AIDS dan ditinggalkan oleh istrinya, Lou setelah dia memberitahu Lou bahwa dia mengidap AIDS. Di lain cerita, seorang pengacara bernama Roy Cohn dan seorang tukang suap dari politik sayap kanan Amerika Serikat, Joe Pitt merupakan pasangan homoseksual yang memiliki peranan penting di gedung putih.

Dalam film ini, banyak alur cerita percintaan yang rumit hingga ada sedikit adegan mistis ketika Roy yang akhirnya didiagnosa mengidap AIDS didatangi oleh seorang hantu bernama Ethel Rosenberg, seorang komunis Amerika yang dihukum mati dengan kursi listrik pada tahun 1953.


The Witnesses (2007)


Sarah dan Mehdi adalah pasangan tidak bahagia yang menikah dan tinggal di Paris pada tahun 1984. Teman dekat Sarah, Adrien yang merupakan seorang dokter gay kemudian bertemu dengan Manu, seorang pria muda yang menarik saat sedang berlayar.

Meskipun Adrien jatuh cinta dengannya,namun hubungan mereka tetap platonic. Mahdi dan Manu, hubungan seksual mereka menjadi lebih rumit setelah Manu didiagnosa menderita AIDS.


Precious: Based on the Novel “Push” by Sapphire (2009)


Film ini menceritakan tentang seorang remaja gemuk dan tidak sehat yang telah mengalami kekerasan mental, fisik, dan seksual selama bertahun-tahun.

Setelah diperkosa beberapa kali oleh ayahnya, yang mengakibatkan dua kehamilan, dan bahwa ia juga positif HIV. Namun akhirnya ia berhasil menemukan hidup baru melalui seorang guru yang peduli dan seorang pekerja social yang tangguh.


The Dallas Buyers Club (2013)


Setelah didiagnosa menderita AIDS dan hidupnya diperkirakan hanya tinggal 30 hari lagi, Woodroof (Mc Conuaghey) mulai mengambil AZT, satu-satunya obat yang disetujui FDA secara hukum yang tersedia di AS, yang kemudian malah hampir membunuhnya.

Dengan bantuan seorang dokter (Jennifer Garner) dan Rayon (Leto), seorang wanita transgender yang mengidap positif HIV. Woodroof menemukan meneliti obat yang ia butuhkan, dan menemukan bahwa obat anti virus yang paling efektif yang tidak tersedia untuk dirinya dan penderita AIDS lainnya di AS.

Ia mulai menyelundupkan obat-obatan dari tempat lain, dan kemudian akhirnya membentuk Dallas Buyers Club. Club ini bertekad memberikan obat terbaik untuk membantu memperpanjang hidup orang yang menderita HIV/AIDS. Namun, FDA segera menangkap operasi Woodroof dan menetapkan untuk menutupnya.


Breaking the Surface: The Greg Louganis Story


Isu HIV/AIDS juga merambah ke dalam dunia olahraga. Pada tahun 1997, sebuah film tentang seorang atlet lompat indah peraih medali emas di tiga Olimpiade antara lain 1984 dan 1988, Greg Louganis yang ternyata terjangkit virus HIV/AIDS setelah mengetahui ayahnya adalah pengidap HIV/AIDS.

Dia baru diketahui mengidap HIV ketika dokter melakukan test darah setelah Gred mendapat kecelakaan di bagian kepala karena terbentur papan lompatan. Dan saat itu pula, Greg mengakui jika dirinya adalah seorang gay dan siap menjalani kehidupannya sebagai seorang gay. Film yang dibintangi oleh Mario Lopez ini mendapat penghargaan dari ALMA Award.


How to Survive a Plague (2012)


Ini adalah sebuah film documenter David France’s yang berfokus pada  ACT UP (AIDS Coalition to Unleash Power) di tahun-tahun awal wabah HIV. Kelompok ini dibentuk oleh para penderita AIDS dan aktivis yang berjuang ntuk mendapatkan dukungan dan perawatan medis dari instansi pemerintahan Amerika Serikat.

Film documenter ini dibuat menggunakan nyaris 700 jam rekaman arsip, termasuk wawancara, fitur berita, demonstrasi dan pertemuan anggota koalisi itu sendiri. Dia mendedikasikan film ini untuk pasangannya, yang meninggal karena AIDS pada tahun 1992.


Don’t Ever Wipe Tears Without Gloves (2012)


Ini adalah sebuah drama TV Swedia yang dibagi dalam 3 episode. Dengan judul Love, Disease, and Death. Film ini menggambarkan tentang dampak HIV/AIDS dalam komunitas homoseksual di Stockhlom pada era 1980-an.

Oleh: Desy L

Scroll To Top