18 Kenyataan yang Diketahui oleh Semua Penulis tentang Kehidupan Mereka

1. Kafein sangat berarti untukmu.

2. Kamu menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis daripada bekerja dan sekolah.


3. Kamu mengedit bukumu berkali-kali dan bahkan membuat quote pada suatu kalimat dengan sepenuh hati.


4. Kamu nggak tahan dengan tipe orang yang sering berkata,”Aku penulis dan seneng nulis, tapi belum pernah nulis apapun, sih.”


5. Kamu menghabiskan banyak waktu untuk menulis saking seringnya nunda menulis.



6. Kamu terjaga hingga larut malam demi menyelesaikan draft pertamamu atau menepati deadline.


7. Bosmu bakal memecatmu atau gurumu bakal ngasih nilai jelek kalau kamu ketahuan lagi menulis ceritamu...


8. Tapi pada saat yang sama, kamu tidak benar-benar peduli apapun perkataan mereka.


9. Keluargamu mengeluh ketika mereka jarang melihatmu; mereka sebenarnya cuma nggak bisa melihat kedalaman ‘visi sastra’-mu.


10. Saking cintanya nulis, kamu mungkin sudah nulis novel ketiga dalam seri ceritamu, meskipun yang pertama belum akan dijual.


11. Karakter fiksimu lebih dekat denganmu daripada teman-temanmu dalam kehidupan nyata; karena kamulah yang menciptakan mereka.


12. Kamu berharap bahwa dunia imajinasimu adalah dunia tempat tinggalmu, dan akhirnya perlahan-lahan dunia nyatamu mulai tampak seperti itu.


13. Kamu gagal ujian matematika, tetapi kamu selesai mengedit bukumu! Siapa pula yang butuh gelar kalau kamu seorang seniman?


14. Kamu telah ditolak penerbitan berkali-kali hingga akhirnya hal ini sekarang mulai menjadi sedikit lucu; lucu setelah air mata berhenti mengalir dari matamu, tentu saja.


15. Ketika kamu telah mempertimbangkan untuk melakukan kontrak penerbitan pertamamu, kamu merasa nggak yakin bakal ada yang baca ceritamu atau nggak...

16. Tapi kamu tahu pertama kali seseorang membaca karyamu, perasaan macam itu akan sia-sia saja.


17. Karena apa yang selalu ingin semua penulis lakukan adalah mengubah dunia dengan tulisan mereka, dan suatu hari nanti, kamu juga. :)


18. Jadi jangan sekalipun berpikir untuk menyerah.



Penulis: Esmeraldah Prasetya

Scroll To Top